Tutup
News

Trump vs Musk: Perebutan NASA, Masa Depan Terancam?

168
×

Trump vs Musk: Perebutan NASA, Masa Depan Terancam?

Sebarkan artikel ini
perseteruan-trump-musk-picu-krisis-terbesar-di-nasa
Perseteruan Trump-Musk Picu Krisis Terbesar di NASA

Washington – Masa depan program antariksa Amerika Serikat (AS) di bawah naungan NASA terancam akibat perselisihan antara Presiden Donald Trump dan CEO SpaceX, Elon Musk, terkait RUU pajak.

Konflik ini memperburuk ketidakpastian di tengah ancaman pemangkasan anggaran yang signifikan.

NASA telah mengajukan permintaan anggaran kepada Kongres, yang mencakup pemotongan dana untuk proyek sains hingga hampir 50 persen.

Akibatnya, sekitar 40 misi ilmiah, baik yang masih dalam tahap pengembangan maupun yang sudah beroperasi di orbit, berisiko dihentikan.

Presiden Trump bahkan mengancam akan mencabut kontrak federal dengan SpaceX, perusahaan milik Musk.

Padahal, NASA sangat bergantung pada roket Falcon 9 milik SpaceX untuk memasok kebutuhan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), serta pada roket Starship untuk misi pengiriman astronot ke Bulan dan Mars di masa depan.

Ilmuwan antariksa, Simeon Barber, mengungkapkan bahwa ketidakpastian ini akan memberikan “dampak yang mengerikan” terhadap program antariksa berawak.

Dia menambahkan, “Ilmu pengetahuan dan eksplorasi luar angkasa membutuhkan perencanaan jangka panjang serta kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi.”

selain ketegangan antara Trump dan Musk, Gedung Putih juga mengusulkan pemangkasan anggaran besar bagi NASA, kecuali untuk program pendaratan manusia di Mars yang justru mendapatkan tambahan dana sebesar 100 juta dolar AS.

Kepala kebijakan antariksa dari Planetary Society, Casey Dreier, menilai bahwa potensi pemangkasan ini merupakan “krisis terbesar yang pernah dihadapi program luar angkasa AS.”

NASA menyatakan bahwa permintaan anggaran baru ini bertujuan untuk “menyelaraskan portofolio sains dan teknologi dengan misi prioritas eksplorasi Bulan dan Mars.”

Adam Baker dari Universitas Cranfield berpendapat, jika usulan ini disetujui, fokus NASA akan berubah secara mendasar. “Trump ingin NASA mendaratkan astronot di Bulan sebelum Tiongkok dan menancapkan bendera AS di Mars. Selain itu, semuanya dianggap sekunder,” ujarnya seperti dilansir BBC News.

Para pendukung pemotongan anggaran berpendapat bahwa rencana Gedung Putih memberikan NASA arah yang jelas, serupa dengan era Apollo 1960-an, saat AS berlomba dengan Uni Soviet. Sementara itu, kritikus NASA menilai lembaga tersebut kini terlalu birokratis dan kerap boros anggaran untuk misi luar angkasa.

Salah satu contoh yang sering disorot adalah Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS), roket baru NASA untuk misi kembali ke Bulan, yang pembangunannya mengalami keterlambatan dan biaya per peluncuran mencapai 4,1 miliar dolar AS. Sebagai perbandingan, Starship milik SpaceX diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 100 juta dolar AS karena dapat digunakan kembali. Blue Origin milik Jeff Bezos juga menjanjikan efisiensi serupa melalui roket New Glenn. Gedung putih mengusulkan penghapusan SLS dan mengandalkan Starship dan New Glenn sebagai penggantinya. Namun, tiga peluncuran uji coba Starship terakhir mengalami kegagalan, sementara roket Bulan Blue Origin baru memasuki tahap awal pengujian.

Barber menambahkan, yang lebih mencemaskan adalah potensi hilangnya 40 misi sains luar angkasa, termasuk yang berkaitan dengan pemantauan perubahan iklim dari orbit dan kolaborasi internasional yang telah berlangsung lama.

“Sangat menyedihkan melihat capaian bertahun-tahun dapat runtuh begitu cepat tanpa rencana untuk membangunnya kembali,” pungkas Barber.