Jakarta – Industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun 2024, melampaui sektor manufaktur non-migas lainnya. Data menunjukkan pertumbuhan sebesar 14,47% secara tahunan, jauh melampaui pertumbuhan sektor manufaktur non-migas yang hanya mencapai 4,31%.
Direktur Jenderal Industri logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengungkapkan bahwa investasi di sektor ini juga mengalami peningkatan. “Investasi juga menunjukkan tren positif, dengan lebih dari 67 triliun rupiah atau sekitar 4 miliar dolar AS masuk ke sektor ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Indonesia berhasil memproduksi 17 juta ton crude steel pada tahun 2024, yang menempatkan negara ini di peringkat ke-14 dunia. “Dan menempatkan kita di peringkat ke-14 dunia,” kata setia Diarta.Setia Diarta juga menyoroti potensi peningkatan produksi dalam negeri,khususnya untuk Oil Country Tubular Goods (OCTG). Saat ini, Indonesia memiliki 14 produsen OCTG dalam negeri dengan kapasitas yang memadai. “Saat ini, kita memiliki 14 produsen OCTG dalam negeri dengan kapasitas yang memadai, namun baru dimanfaatkan sekitar 40%,” jelasnya. Menurutnya, hal ini menunjukkan peluang besar untuk mendukung kebutuhan sektor minyak dan gas nasional secara lebih optimal. “Ini menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mendukung kebutuhan sektor minyak dan gas nasional secara lebih optimal,” pungkasnya.







