Tutup
News

Penutupan Selat Hormuz Bisa Hilangkan 20 Persen Pasokan Minyak Dunia dari Kawasan Teluk

239
×

Penutupan Selat Hormuz Bisa Hilangkan 20 Persen Pasokan Minyak Dunia dari Kawasan Teluk

Sebarkan artikel ini
penutupan-selat-hormuz-bisa-hilangkan-20-persen-pasokan-minyak-dunia-dari-kawasan-teluk
Penutupan Selat Hormuz Bisa Hilangkan 20 Persen Pasokan Minyak Dunia dari Kawasan Teluk

Jakarta – Potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat ketegangan dengan Israel menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia. Praktisi industri minyak dan gas bumi, Hadi Ismoyo, pada Minggu (15/6/2025), menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan merasakan dampak signifikan.

Ismoyo menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak dari negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, hingga sekitar 20 persen. ia juga memperkirakan bahwa jalur alternatif melalui laut Merah berpotensi mengalami gangguan serupa.

“Sehingga minyak dunia akan terkerek naik secara signifikan otomatis karena formula harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) juga mengacu pergerakan minyak dunia, ICP juga akan naik signifikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ismoyo memprediksi eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak dunia ke kisaran 75-85 dolar AS per barel. “Bahkan kalau pihak pihak terkait seperti PBB,Amerika Serikat,rusia,China dan GCC (gulf cooperation Council/negara teluk) sendiri tidak bisa menghentikan perang ini maka koridor baru itupun bisa terlampaui,” jelasnya.

menyadari potensi dampak global terhadap Indonesia, Ismoyo menekankan pentingnya diversifikasi energi. Ia menyarankan pemerintah untuk menghidupkan kembali program konversi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG ke gas,yang pernah diinisiasi pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. “Program Konversi BBM/LPG ke gas yg di gagas sejak era SBY, seharusnya dihidupkan lagi, supaya kita terbebas dari ketergantungan import BBM dan LPG,” ujarnya.

Ismoyo menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya gas yang memadai. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur gas secara agresif, termasuk terminal regasifikasi FRSU, jaringan pipa transmisi dan distribusi, serta jaringan pipa konvensional maupun virtual, menjadi sangat penting. Ia juga mendorong pemanfaatan sumber gas dari Indonesia Timur, seperti Tangguh III, kasuri, Masela, Gank North, IDD, dan Andaman Sea Gas Discovery, untuk memenuhi kebutuhan industri di Pulau Jawa.