Tutup
News

Rupiah Diprediksi Masih Melemah Akibat Konflik di Timur Tengah

220
×

Rupiah Diprediksi Masih Melemah Akibat Konflik di Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan terbatas di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah. Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah tercatat melemah.

Menurut Ariston Tjendra, nilai tukar rupiah masih berkonsolidasi di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.300 per dolar AS. “Nilai tukar rupiah belum bergerak kemana-mana, masih berkonsolidasi di kisaran Rp16.200-Rp16.300,” ungkapnya.

Ariston menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Iran dan Israel. Pasar, menurutnya, masih menantikan perkembangan lebih lanjut di Timur Tengah. “Tidak ada eskalasi yang membuat pelaku pasar tenang dan kembali masuk ke aset berisiko,” jelasnya.

Sebagai informasi,pada Jumat (13/6),Pasukan Pertahanan Israel (IDF) meluncurkan operasi militer besar-besaran bernama “Operation Rising Lion” dengan menyerang target militer dan fasilitas program nuklir Iran. Serangan tersebut menargetkan sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Tehran, dan dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat militer tinggi Iran, termasuk Kepala Staf Umum Militer Iran Jenderal Mohammad Bagheri dan beberapa komandan Garda Revolusi, serta sejumlah ilmuwan nuklir.

Sebagai balasan,iran meluncurkan “operation True Promise 3”,yang menyerang berbagai fasilitas militer dan sasaran strategis milik israel.

Ariston menambahkan bahwa para pelaku pasar masih mewaspadai perkembangan konflik ini sehingga kemungkinan nilai tukar dolar AS masih bergerak di kisaran yang sama. “Dolar AS juga masih terbuka untuk menguat lagi terhadap nilai tukar lainnya karena potensi eskalasi konflik dan juga negosiasi tarif yang berpotensi deadlock lagi,” katanya.

Dengan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak menuju Rp16.300 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp16.200 per dolar AS. Ariston mewanti-wanti, “Apabila konflik ini semakin meluas dan berlangsung panjang, pelaku pasar dipastikan akan mencari aset aman dan kurs rupiah bisa balik melemah ke Rp16.600 per dolar AS.”

Lebih lanjut, Ariston menjelaskan potensi dampak yang lebih luas dari konflik ini. “Timur Tengah ini produsen minyak mentah, harga minyak bisa naik lagi, harga komoditas lain juga bisa melonjak.Pergerakan logistik bisa terhambat, inflasi naik, ekonomi global goyang,” pungkasnya.

Pada pembukaan perdagangan hari Selasa pagi di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah sebesar 34 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.299 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.265 per dolar AS.