Jakarta – Bank Indonesia (BI) terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui serangkaian kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah pemberian insentif likuiditas kepada bank-bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Hingga pekan kedua Juni 2025, total insentif yang telah dikucurkan mencapai angka Rp 372 triliun.
Menurut keterangan resmi dari BI, insentif tersebut disalurkan kepada berbagai kelompok bank dengan proporsi yang berbeda-beda.”Bank indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif,termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM),” ujar BI dalam konferensi pers yang diadakan setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG).
Dari total insentif yang dialokasikan, Rp 164 triliun diberikan kepada kelompok bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sementara itu, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) menerima Rp 166,4 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) mendapatkan Rp 36 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) memperoleh Rp 5,6 triliun.
BI menekankan bahwa kredit perbankan memegang peranan krusial dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Data terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit pada Mei 2025 tercatat sebesar 8,43 persen year on year (yoy),sedikit menurun dibandingkan dengan angka pada April 2025 yang mencapai 8,88 persen (yoy).
Dari sisi penawaran, preferensi perbankan terhadap penanaman surat-surat berharga masih menunjukkan tren yang kuat, meskipun standar penyaluran kredit mulai mengalami peningkatan. Likuiditas perbankan secara umum masih berada dalam kondisi yang memadai, meskipun pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) cenderung melambat dari 5,51 persen (yoy) pada awal januari 2025 menjadi 4,29 persen (yoy) pada Mei 2025.
pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor jasa sosial, industri, dan sektor lainnya. BI menambahkan bahwa kredit ke sektor perdagangan, pertanian, dan jasa dunia usaha perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pembiayaan ekonomi.Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi tercatat sebesar 13,74 persen (yoy), kredit modal kerja sebesar 4,94 persen (yoy), dan kredit konsumsi sebesar 8,82 persen (yoy) pada Mei 2025. Sementara itu, pembiayaan syariah tumbuh sebesar 9,19 persen (yoy), dan kredit UMKM tumbuh sebesar 2,17 persen (yoy).
Dengan perkembangan kredit tersebut dan prospek perekonomian ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 berada di kisaran 8-11 persen.
“Ke depan, Bank Indonesia juga akan terus mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan yang didukung oleh perluasan sumber pendanaan, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah, otoritas keuangan, kementerian/lembaga, perbankan, dan pelaku usaha,” kata BI.
BI juga menyoroti ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam mendukung stabilitas sistem keuangan. Kondisi likuiditas perbankan dinilai memadai, permodalan terjaga di level tinggi, dan risiko kredit tetap rendah.
Likuiditas perbankan yang tetap memadai tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 24,98 persen pada mei 2025. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada april 2025 tetap tinggi di angka 25,41 persen.
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat rendah, yakni 2,24 persen (bruto) dan 0,83 persen (neto) pada april 2025.Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat, ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi global dan domestik yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan,” pungkas BI.







