Tutup
News

Pasar Khawatir Perang Meruncing, Rupiah dalam Tren Melemah

242
×

Pasar Khawatir Perang Meruncing, Rupiah dalam Tren Melemah

Sebarkan artikel ini
pasar-khawatir-perang-meruncing,-rupiah-dalam-tren-melemah
Pasar Khawatir Perang Meruncing, Rupiah dalam Tren Melemah

Jakarta – Rupiah menunjukkan ketahanan di tengah ketegangan geopolitik global. Pada penutupan perdagangan Jumat (20/6/2025), nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS sedikit menguat, naik 9,50 poin atau 0,06 persen, mencapai level Rp 16.396,5 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.Pengamat mata uang, ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi keterlibatan Amerika Serikat telah memicu ketidakstabilan ekonomi global. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal negara tersebut.

“Indonesia tengah berada dalam pusaran ketidakpastian global yang kompleks,” ujar Ibrahim,menekankan perlunya respons yang kuat. “Pergeseran struktural ekonomi dunia menuntut ketahanan domestik yang kuat, respons kebijakan yang adaptif, dan koordinasi yang solid antara lembaga fiskal, moneter, dan sektor riil,” tambahnya.

Ibrahim menekankan pentingnya penguatan fondasi ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global. “Indonesia tidak bisa mengendalikan arah angin global, tetapi dapat memperkuat ‘layar’ ekonomi nasional agar tetap melaju menuju tujuan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Tekanan fiskal dan moneter di negara-negara maju dapat berdampak signifikan pada negara berkembang seperti Indonesia, menurut Ibrahim. Ia menjelaskan, “Ketika negara-negara maju mengalami tekanan fiskal dan moneter, negara berkembang seperti Indonesia cenderung mengalami transmisi tekanan tersebut dalam bentuk pelemahan nilai tukar, keluarnya arus modal asing, serta kenaikan beban bunga utang luar negeri.”

Situasi ini menuntut pemerintah untuk meningkatkan disiplin dalam pengelolaan risiko fiskal, menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan, mendorong diversifikasi pembiayaan infrastruktur, serta mempercepat penguatan ketahanan pangan dan energi.

Langkah-langkah tersebut dianggap krusial mengingat potensi eskalasi konflik akibat keterlibatan AS. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pejabat senior AS tengah mempersiapkan opsi serangan terhadap Iran, dan keputusan akan diambil oleh Presiden Donald Trump dalam dua pekan mendatang, sambil membuka ruang negosiasi nuklir dengan Teheran.

Meskipun pernyataan Gedung Putih berupaya meredakan ketidakpastian, kekhawatiran tetap ada, terutama setelah Iran berulang kali memperingatkan terhadap kemungkinan agresi militer. Perundingan nuklir antara Washington dan Teheran dilaporkan mengalami kegagalan setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran.

“Fokus sebagian besar adalah pada apakah Israel akan melancarkan lebih banyak serangan terhadap fasilitas nuklir Iran,khususnya Fordow,yang merupakan fasilitas pengayaan terbesar negara itu,” ungkap Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, sentimen pasar global yang terguncang akibat komentar dari Federal reserve juga memberikan tekanan pada Rupiah. Ketua The fed, Jerome Powell, enggan memberikan komitmen terhadap rencana pemangkasan suku bunga dan bahkan memangkas prospek penurunan suku bunga hingga 2026.

Meskipun demikian, Ibrahim memprediksi Rupiah berpotensi menguat pada perdagangan berikutnya. “Untuk perdagangan senin depan (23/6/2025), mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup menguat di kisaran Rp 16.350-rp 16.400 per dolar AS,” pungkasnya.