Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi berbagai risiko global yang berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Hal ini diungkapkan oleh Sri Mulyani Indrawati,terkait kekhawatiran atas meningkatnya konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan internasional.melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (21/6/2025), Sri Mulyani menjelaskan pertemuannya dengan First Deputy Managing Director of the International Monetary Fund (IMF), Gita Gopinath, yang membahas isu-isu penting terkait ekonomi Indonesia dan global.
“Dalam situasi gejolak perekonomian global saat ini dengan kondisi disrupsi rantai pasok, kebijakan suku bunga higher for longer yang masih terjadi, risiko inflasi tinggi serta pelemahan ekonomi dunia, menjaga pertumbuhan ekonomi masing-masing tetap baik menjadi tantangan besar bagi seluruh negara di dunia begitu juga untuk Indonesia,” tulisnya.Sebelumnya, menanggapi dampak konflik Israel-Iran terhadap perekonomian global, Sri Mulyani menyampaikan keprihatinan mendalam.Dalam konferensi pers APBN KiTa yang diselenggarakan di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Selasa (17/6/2025), ia menyatakan bahwa eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran memberikan dampak langsung dan signifikan terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
“Situasi kondisi global dan nasional geopolitik yang sayangnya situasinya tidak membaik dengan terjadinya perang yang sekarang ini berlangsung makin sengit antara Israel dan Iran,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu dampak yang paling cepat dirasakan. “Pecahnya perang Israel dengan Iran dan ini telah menyebabkan langsung pada hari pertama harga minyak naik lebih dari 8 persen, yang tadinya pada kisaran USD70 bahkan dibawah USD70 untuk Brent itu terjadi kenaikan lonjakan bahkan tertinggi sempat mencapai USD78 per barel, naik hampir 9 persen meskipun sekarang mengalami koreksi di USD75 per barel,” jelasnya.
Selain itu, Sri Mulyani juga menyoroti ketidakpastian yang timbul akibat hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok. “Hubungan antara Amerika dengan RRT dari sisi ketegangan perdagangan agak sedikit menurun tensinya dengan adanya inisiatif kedua belah pihak untuk melakukan negosiasi, meskipun sampai hari ini belum tercapai persetujuan sehingga ini masih menimbulkan ketidakpastian,” katanya.
Dalam menghadapi tantangan global ini, Sri Mulyani menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas APBN. “APBN terus dikelola secara hati-hati dan bijaksana,daya beli masyarakat dilindungi melalui berbagai stimulus untuk mendorong konsumsi rumah tangga,” tulisnya.
Ia juga menambahkan, “Selain itu, Indonesia juga berkomitmen akan menjaga defisit tetap terkendali sesuai batas yang ditentukan dalam UU APBN.”
Sri Mulyani menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berkelanjutan. “Kita optimis, namun tetap waspada. semoga dengan sinergi antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, kita dapat menjaga pertumbuhan Indonesia tetap berkelanjutan,” pungkasnya.







