Tutup
Perbankan

Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah, Strategi Indonesia Tekan Dampak Ekonomi hingga Harga BBM?

263
×

Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah, Strategi Indonesia Tekan Dampak Ekonomi hingga Harga BBM?

Sebarkan artikel ini
selat-hormuz-di-tengah-konflik-timur-tengah,-strategi-indonesia-tekan-dampak-ekonomi-hingga harga bbm?
Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah, Strategi Indonesia Tekan Dampak Ekonomi hingga Harga BBM?

Jakarta – Konflik yang berkepanjangan antara Iran dan Israel, yang dipicu oleh serangan rudal Israel ke teheran sejak 13 Juni 2025, telah memicu kekhawatiran global terkait potensi penutupan Selat Hormuz. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat.

Esmaeil Kowsari, anggota senior parlemen Iran, menyatakan pada minggu (22/6/2025) bahwa parlemen telah mencapai kesepakatan untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tindakan Amerika Serikat dan sikap diam komunitas internasional. “Parlemen telah sampai pada kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir berada di tangan dewan Keamanan Nasional Tertinggi,” ujarnya, seperti yang dilaporkan oleh Press TV.

Selat Hormuz, yang terletak di antara Teluk Persia dan teluk Oman, memiliki lebar hanya 21 mil pada titik tersempitnya. Jalur ini merupakan satu-satunya rute pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia, dengan Iran mengendalikan sisi utaranya.Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan sekitar 20 juta barel minyak, atau seperlima dari produksi global harian, melewati selat ini setiap hari, menjadikannya sebagai “titik kritis minyak.”

Rob Thummel, manajer portofolio senior di perusahaan investasi energi Tortoise Capital, memperkirakan bahwa gangguan pada rute laut di Selat Hormuz dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga USD 100 per barel. Seorang penasihat terkemuka pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga telah menyerukan penutupan selat tersebut, dengan menyatakan, “Selat Hormuz sangat penting bagi kesehatan ekonomi global.”

Goldman Sachs menandai risiko terhadap pasokan energi global di tengah kekhawatiran atas potensi gangguan di Selat Hormuz. Goldman Sachs memprediksi harga minyak Brent dapat mencapai puncaknya pada USD 110 per barel jika pasokan minyak melalui Selat Hormuz dikurangi setengahnya selama sebulan dan tetap turun sebesar 10% selama 11 bulan berikutnya. Goldman menyoroti prediksi pasar yang mencerminkan probabilitas 52% Iran menutup Selat Hormuz pada 2025.

Penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan berdampak signifikan pada tiongkok dan ekonomi Asia lainnya, yang sangat bergantung pada minyak mentah dan gas alam yang dikirim melalui jalur air tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, pada konferensi pers, Senin (23/6/2025), mengatakan bahwa Tiongkok menyerukan kepada masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya untuk mendorong de-eskalasi konflik dan untuk mencegah kekacauan regional memberikan dampak yang lebih besar pada pembangunan ekonomi global. “Tiongkok menyerukan kepada masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya untuk mendorong de-eskalasi konflik dan untuk mencegah kekacauan regional memberikan dampak yang lebih besar pada pembangunan ekonomi global,” ujarnya.

Carmelita Hartoto, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners Association (DPP INSA), menjelaskan bahwa konflik Iran vs Israel saat ini saja sudah berdampak pada operasional Selat Hormuz. “Situasi ini menyebabkan lonjakan biaya asuransi kapal (war risk premium), pengetatan pengamanan, dan potensi keterlambatan pengiriman barang,” jelas Carmelita, Selasa (24/6/2025). Ia menambahkan, “Bisa dibayangkan bila Selat Hormuz diblokade, maka akan juga berdampak terhadap harga minyak dunia. Yang mana kalau kita lihat dalam kurun waktu satu minggu setelah eskalasi konflik, harga minyak tercatat meningkat sebesar USD 10-15 per barel.”

Bhima Yudhistira, ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), memperkirakan bahwa Indonesia akan terkena dampak sampingan dari konflik Iran-Israel. “Karena harga minyak dunia naik akibat suplai terganggu imbasnya ke biaya impor BBM jadi lebih mahal,” ungkap Bhima, Selasa (24/6/2025). Bhima memproyeksi harga minyak dunia diperkirakan akan menyentuh kisaran USD 80-83 jika penutupan Selat Hormuz terjadi.

Iwa Garniwa,pengamat energi dari Universitas Indonesia,menilai Indonesia akan terkena imbas serius jika penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran berlangsung lama. “Jika harga minyak dunia melonjak tajam akibat krisis di Selat Hormuz, Indonesia sebagai negara importir bersih akan menghadapi beberapa dampak, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri,” kata Iwa.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bila Iran menutup Selat Hormuz bisa mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memicu tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Ketika Selat Hormuz ditutup, ini akan berdampak kenaikan harga minyak dunia ini berpotensi naik,” kata Bahlil, Selasa (24/6/2025). Ketua DPR RI, Puan Maharani, meminta Pemerintah mengajak negara-negara sahabat mendorong perdamaian antara Iran dan Israel.”Apa yang akan terjadi kalau kemudian itu terus berkepanjangan.tentu saja, sebaiknya kedua belah pihak menahan diri. Begitu juga negara-negara lain untuk mengimbau agar permasalahan yang terjadi di antara kedua negara bisa diselesaikan dengan baik dan jangan kemudian lebih memperkeruh suasana,” sebut Puan.

Pertamina mengantisipasi dampak penutupan Selat Hormuz dengan menyiapkan rute alternatif distribusi minyak mentah yakni oman dan India. “Pertamina telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengamankan kapal kita, mengalihkan rute kapal ke jalur aman melalui Oman dan India,” ujar vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso. Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS), Muhammad Baron, juga mengatakan, selain menyiapkan rute alternatif, PIS mengutamakan keselamatan awak dan kapal PIS.