Tutup
News

Lewat Digital, Petani Cabai Sleman tak Lagi Tergantung Tengkulak

344
×

Lewat Digital, Petani Cabai Sleman tak Lagi Tergantung Tengkulak

Sebarkan artikel ini
lewat-digital,-petani-cabai-sleman-tak-lagi-tergantung-tengkulak
Lewat Digital, Petani Cabai Sleman tak Lagi Tergantung Tengkulak

sleman – Ribuan petani cabai di Sleman kini merasakan dampak positif dari inovasi lelang digital yang digagas oleh Koperasi PPHPM Sleman, sebuah koperasi yang dibina oleh Bank Indonesia. sistem ini diharapkan dapat memutus rantai ketergantungan petani pada tengkulak dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Dengan sistem lelang digital, hasil panen cabai yang mencapai 10 hingga 15 ton per hari dapat ditampung, disortir, dan dijual secara transparan. Aplikasi digital tertutup digunakan untuk proses lelang,di mana harga tertinggi akan menjadi pemenang.Proses yang sebelumnya rentan terhadap praktik negosiasi yang merugikan, kini diklaim berlangsung adil, aman, dan akuntabel.

Menurut Sekretaris Koperasi PPHPM, Ardhi Prasetyo, koperasi menampung semua jenis cabai dari Sleman. “Dalam pengelolaan pasar lelang cabai, kami menampung semua jenis cabai dari Sleman.Kemudian dibuka harga lelang secara tertutup menggunakan aplikasi. Pemenang lelang yang muncul dengan harga tertinggi akan langsung lanjut ke pengemasan dan pengiriman,” ujarnya pada Rabu (24/6/2025).

Petani tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pembayaran. Harga untuk setiap petani langsung tertera di sistem dan pembayaran dilakukan saat itu juga, baik secara tunai maupun transfer. saat ini, terdapat 14 titik kumpul cabai di berbagai kecamatan yang menyuplai koperasi setiap sore hingga malam hari.

Ketua PPHPM, Nanang, menjelaskan bahwa sistem ini dirintis sejak 2017 secara manual, namun mengalami perkembangan pesat setelah Bank Indonesia DIY terlibat pada 2020. Bank Indonesia memberikan dukungan dalam pembentukan koperasi formal, penyediaan infrastruktur digital, serta pendampingan pelatihan dan manajemen kelembagaan.

Sistem digital ini memungkinkan koperasi tidak hanya mengelola transaksi, tetapi juga menyusun kalender tanam strategis, memprediksi harga, dan menjaga stabilitas pasokan. Petani yang sebelumnya sering merugi akibat fluktuasi harga, kini dapat merencanakan panen saat harga tinggi.

“Dulu pengurus bahkan tidak digaji dan memakai dana pribadi untuk menalangi petani.Sekarang, sistem ini sehat secara keuangan, dan pengurus bisa digaji setara UMR,” ungkap Nanang.

Saat ini, lebih dari 2.200 petani cabai di Sleman telah bergabung dalam sistem ini. Bahkan,petani dari kabupaten lain juga ikut mengirim hasil panen ke pasar lelang PPHPM.Sistem ini juga memungkinkan penelusuran produk jika ada keluhan dari pedagang, karena semua proses telah terdigitalisasi dan terdokumentasi.

Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menilai inovasi yang dilakukan PPHPM sebagai bukti pentingnya sinergi dalam mendorong UMKM naik kelas. “Untuk nilai ekspor, ini kita punya event namanya grebeg UMKM baru kemarin diselenggarakan bulan April. Yang dilaksanakan pada periode itu saja mencapai Rp 7 miliar dari 34 UMKM. tapi periodenya hanya sampai dengan april 2025.Ada potensi lebih besar dari itu,” kata Sri Darmadi Sudibyo, menyoroti potensi besar pasar produk UMKM, termasuk hasil tani seperti cabai.Digitalisasi pasar cabai ini juga mendukung pengendalian inflasi, memperluas akses pembiayaan, serta mendorong efisiensi distribusi pangan secara nasional. Pemerintah pusat kini menjadikan PPHPM sebagai rujukan. Bahkan, dalam kondisi darurat seperti lonjakan harga cabai di Manado yang sempat mencapai Rp 240 ribu per kilogram, PPHPM mampu mengirim pasokan secara cepat dan menurunkan harga.

Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan Bank Indonesia, program tahunan penguatan petani disusun melalui forum RGB. Petani tidak hanya dilatih bercocok tanam, tetapi juga dikuatkan secara kelembagaan, diajarkan literasi keuangan, dan didorong untuk mengadopsi teknologi tepat guna.

PPHPM Sleman kini bukan hanya sekadar koperasi, tetapi juga ekosistem pertanian digital yang memberikan harga adil bagi petani, efisiensi bagi pedagang, dan stabilitas bagi pasar.Sistem ini lahir dari masalah klasik, diselesaikan melalui gotong royong lokal, dan diperkuat oleh kebijakan strategis Bank Indonesia.