Tutup
News

Menelisik Krisis Kepedulian Sosial dalam Masyarakat Minangkabau Kontemporer

280
×

Menelisik Krisis Kepedulian Sosial dalam Masyarakat Minangkabau Kontemporer

Sebarkan artikel ini
menelisik-krisis-kepedulian-sosial-dalam-masyarakat-minangkabau-kontemporer
Menelisik Krisis Kepedulian Sosial dalam Masyarakat Minangkabau Kontemporer

Padang – Menguatkan kembali identitas kultural nagari, pepatah Minangkabau “Sayang ka anak di lacuik, sayang ka nagari ditinggakan” kembali disorot. Hal ini seiring dengan memudarnya semangat kolektivitas dan tanggung jawab sosial terhadap kampung halaman.

Sasmita Zulianti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas,melalui artikel Sastra Minangkabau,mengajak generasi muda untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya identitas kultural terhadap nagari. Zulianti menjelaskan, pepatah ini menggambarkan ketidakseimbangan kecintaan, di mana urusan pribadi atau keluarga lebih diutamakan daripada kepentingan nagari. “Dalam konteks kekinian, pepatah ini merefleksikan tantangan sosial budaya yang kian mengemuka di Minangkabau,” tulis Zulianti dalam artikelnya, Jumat (27/6/2025).

Pepatah ini secara harfiah menggambarkan seseorang yang lebih peduli pada anaknya yang sakit di rantau, namun melupakan nagarinya yang juga bermasalah. Dalam adat Minangkabau, hal ini dianggap sebagai ketimpangan tanggung jawab. Anak adalah darah daging, namun nagari adalah tanah tumpah darah.Keduanya harus seimbang dalam perhatian dan tindakan.

Realitas saat ini menunjukkan relevansi pepatah ini. Banyak perantau sukses enggan terlibat dalam pembangunan nagari,hanya pulang saat lebaran dan memberi sedikit “uang kampung”,namun absen saat nagari butuh suara,ide,atau tenaga untuk perubahan jangka panjang.

Fenomena perantauan yang kuat dalam tradisi Minangkabau juga menjadi sorotan. Merantau, yang dulunya adalah pendewasaan diri, kini sering menjadi ruang asing yang membangun jarak emosional antara individu dan nagari asalnya. Terlalu larut dalam dinamika perantauan membuat seseorang melupakan akar budayanya.

Mulyadi dalam jurnal “Budaya Rantau dan Identitas Orang Minangkabau” (2019) menjelaskan, generasi muda Minangkabau mengalami krisis keterikatan terhadap nagari karena lemahnya pewarisan nilai-nilai kamanakan dan tanggung jawab kolektif dalam sistem matrilineal. Akibatnya,keterikatan terhadap nagari tidak lagi menjadi kebanggaan identitas.

Sistem adat Minangkabau “adat basandi syarak,syarak basandi Kitabullah” mengajarkan bahwa hidup bukan hanya soal individu,tetapi juga hubungan dengan komunitas dan Tuhan. Pepatah ini seharusnya menjadi cermin bagi generasi muda untuk tidak hanya mengejar sukses pribadi atau keluarga,tetapi juga berkontribusi bagi nagari.

Beberapa nagari di Sumatera Barat berhasil membangun nagarinya secara mandiri dengan semangat kolektivitas warga perantauan dan masyarakat lokal. Nagari Koto Gadang adalah contohnya, di mana warga perantaunya tidak hanya memberikan sumbangan materi, tetapi juga menyusun programme beasiswa, pelatihan wirausaha, dan terlibat aktif dalam perumusan kebijakan nagari.

Pendidikan nilai sejak dini menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kasih sayang kepada keluarga dan komitmen terhadap nagari. Anak-anak perlu diajarkan bahwa sukses bukan hanya soal karier pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap kampung halaman.

Salah satu langkah nyata adalah membentuk forum komunikasi perantau yang aktif dan responsif terhadap isu-isu nagari.Forum ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga memiliki pengaruh dan bersinergi dengan pemerintah nagari.

Zulianti menekankan bahwa pepatah ini bukan hanya mengkritik, tetapi juga mengajak untuk merenung dan bertindak. “Kita boleh mencintai anak, keluarga, dan kehidupan di rantau, tetapi jangan pernah lupa bahwa nagari adalah tempat kita bermula dan tempat kita akan dikenang,” pungkasnya.

Semangat kolektivitas perlu dihidupkan kembali, bahu-membahu membangun nagari, dan membentuk generasi yang tidak hanya pintar dan sukses, tetapi juga berjiwa sosial dan berakar kuat pada budaya Minangkabau. Sebab nagari bukan sekadar tempat tinggal, tapi identitas, sejarah, dan masa depan.