Tutup
Perbankan

Riset Ungkap Bahaya BPA Galon, Regulasi Mendesak!

288
×

Riset Ungkap Bahaya BPA Galon, Regulasi Mendesak!

Sebarkan artikel ini
riset-ungkap-kaitan-bpa-pada-galon-guna-ulang
Riset Ungkap Kaitan BPA pada Galon Guna Ulang

Jakarta – Potensi bahaya Bisphenol⁣ A (BPA) pada galon air minum guna ulang ​kembali menjadi sorotan,⁣ menyusul temuan ratusan ‍riset ilmiah dari ‍berbagai negara.Penelitian‍ tersebut secara konsisten mengungkap risiko BPA, bahan⁣ kimia yang lazim digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat.

Riset-riset tersebut menunjukkan bahwa bahan kimia pembentuk plastik keras, seperti yang⁢ digunakan pada⁣ galon guna ulang‌ polikarbonat, berpotensi mengganggu sistem hormon manusia dan memicu berbagai penyakit serius. BPA⁤ kerap ⁢ditemukan dalam‍ kemasan pangan, termasuk air minum​ dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang, dan dikaitkan ⁤dengan masalah kesehatan ⁤seperti kanker, obesitas, gangguan reproduksi, hingga kelainan neurobehavioral.

Temuan ini diperkuat oleh ⁤riset Harvard College pada 2009 yang mencatat⁤ bahwa penggunaan kemasan plastik polikarbonat selama satu minggu dapat⁣ meningkatkan kadar BPA dalam urin hingga 69 persen.Studi serupa dari Kenya pada 2024 menemukan seluruh sampel galon berbahan polikarbonat, baik baru maupun bekas, meluruhkan BPA ⁣melebihi ambang asupan harian yang dapat ditoleransi (TDI) sebesar 4 ‍mikrogram per kilogram berat badan ⁣per hari, mengacu⁤ pada ketentuan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) 2023.

BPA dikenal sebagai endocrine disruptor,senyawa yang meniru hormon estrogen ⁢dalam tubuh manusia. Paparan jangka panjang yang bersifat akumulatif membuat efeknya kerap luput dari perhatian konsumen.

Menyikapi hasil riset terbaru, EFSA menurunkan ambang batas ⁤TDI BPA secara drastis pada April 2023 menjadi 0,2 ng/kg berat badan,⁤ angka ini 20.000 kali lebih ​rendah dari standar sebelumnya pada 2015.‌ Perubahan ini mendorong langkah regulasi yang ‍lebih ketat. Pada 19 Desember 2024, Komisi Eropa secara resmi melarang total⁢ penggunaan BPA dalam semua​ bahan ⁣yang bersentuhan dengan makanan dan ⁤minuman. Negara-negara seperti Prancis, Belgia, Swedia, dan Tiongkok‌ juga telah menerapkan larangan serupa.Di Indonesia, Komunitas Konsumen ‍Indonesia⁤ (KKI) melakukan investigasi lapangan akhir‌ 2024. Hasilnya, hampir 40% galon guna ulang yang beredar telah melewati ​batas usia aman. Sebagian⁣ galon bahkan telah⁢ digunakan 2-4 tahun, jauh di atas rekomendasi aman ⁢dari ‍pakar polimer Universitas Indonesia, Prof.‍ Mochamad​ Chalid, yakni satu⁤ tahun atau maksimal 40 kali isi ‍ulang.

Ketua KKI, David Tobing, baru-baru ini menyatakan bahwa galon guna ulang yang sudah melewati batas usia aman ‍seharusnya ditarik dari peredaran karena berpotensi menimbulkan risiko⁢ kesehatan. “Semakin tua usia pakai galon guna ‍ulang, semakin ‍banyak BPA yang ⁤bisa luruh ke dalam air minum,” imbuhnya.

BPOM juga mencatat hasil serupa. Dalam uji ⁣ post-market ⁢Januari⁤ 2022, ditemukan 33% sampel dari distribusi dan 24% dari produksi menunjukkan‌ migrasi BPA yang mendekati⁣ ambang​ bahaya. Kelompok rentan seperti bayi 6-11 bulan dan anak 1-3 tahun masing-masing berisiko 2,4 ‍kali dan⁢ 2,12 kali lebih tinggi terpapar BPA dibanding orang dewasa.

Menanggapi temuan ini, BPOM mengeluarkan Peraturan Nomor 6 Tahun 2024 yang ⁤mewajibkan​ label peringatan “Berpotensi Mengandung BPA” pada galon guna ulang ‌berbahan polikarbonat.Meski ‌menghadapi penolakan industri, aturan ini diberi masa transisi hingga 2028. ‌David Tobing ⁣mendesak agar penerapan label dipercepat⁤ dan regulasi batas usia pakai galon segera diberlakukan demi perlindungan konsumen.