Tutup
News

Ramai Pelamar Kerja Frustrasi, Interviewer Mereka Ternyata Bukan HRD tetapi AI!

231
×

Ramai Pelamar Kerja Frustrasi, Interviewer Mereka Ternyata Bukan HRD tetapi AI!

Sebarkan artikel ini
ramai-pelamar-kerja-frustrasi,-interviewer-mereka-ternyata-bukan-hrd-tetapi-ai!
Ramai Pelamar Kerja Frustrasi, Interviewer Mereka Ternyata Bukan HRD tetapi AI!

Jakarta – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen kerja menuai pro dan kontra. sebagian perusahaan melihatnya sebagai solusi efisiensi, namun di sisi lain, para pencari kerja justru merasa diperlakukan tidak manusiawi. Penolakan terhadap wawancara berbasis AI ini semakin menguat, memicu perdebatan tentang masa depan rekrutmen di era digital.

Fortune melaporkan, fenomena ini memicu beragam reaksi dari para pelamar, mulai dari rasa frustrasi dan kecewa, hingga keputusan untuk langsung mengakhiri sesi wawancara. Banyak yang beranggapan bahwa keengganan perusahaan untuk bertemu langsung dengan kandidat mencerminkan budaya kerja yang kurang baik.

Debra Borchardt, seorang penulis dan editor, mengungkapkan pengalamannya kepada Fortune. ia mengaku langsung menutup sesi wawancara setelah menyadari bahwa lawan bicaranya adalah sistem AI. “Saya langsung klik keluar. Saya tidak akan duduk di sini selama 30 menit hanya untuk bicara dengan mesin. Saya tidak ingin bekerja di perusahaan yang staf HR-nya bahkan tidak meluangkan waktu untuk berbicara dengan saya,” ungkapnya seperti dikutip dari Futurism, Selasa (5/8/2025).

Senada dengan Borchardt, Allen Rausch, seorang penulis teknis, menyatakan hanya bersedia diwawancarai oleh AI jika ada jaminan untuk berbicara dengan manusia setelahnya. “Dengan sedikitnya respons yang saya terima dari aplikasi dasar saja, saya rasa banyak wawancara AI hanya buang-buang waktu saya,” ujarnya.

Meskipun demikian, perusahaan pengembang teknologi AI untuk wawancara tetap melihat tren ini sebagai langkah efisiensi dan evolusi dalam proses rekrutmen. Adam Jackson, CEO Braintrust, menanggapi kritik terhadap wawancara AI dengan menyatakan, “Jika mayoritas pencari kerja benar-benar menolak teknologi ini, klien kami tentu tidak akan menganggap alat ini berguna. Alat ini pasti akan gagal secara performa. Tapi yang kami lihat justru sebaliknya, trennya meningkat.”

jackson menambahkan,penggunaan AI juga dianggap sebagai solusi untuk mengatasi lonjakan jumlah pelamar. Di era digital ini, aplikasi pekerjaan dapat mencapai ribuan dalam waktu singkat, dan banyak di antaranya menggunakan bantuan AI untuk menyusun CV atau surat lamaran. Hal ini menciptakan siklus di mana pelamar menggunakan AI untuk melamar, dan perusahaan menggunakan AI untuk menyeleksi. Seorang perekrut menggambarkan situasi ini kepada New York Times sebagai “tsunami pelamar yang hanya akan semakin besar,” bahkan menyebutnya sebagai situasi “AI versus AI.”

Namun, efisiensi yang ditawarkan oleh sistem AI sebagai pewawancara juga memiliki kekurangan.Beberapa kasus menunjukkan bahwa gangguan teknis pada AI justru memperburuk pengalaman pelamar. Meskipun demikian, para pendukung teknologi ini berpendapat bahwa hal ini adalah bagian dari dunia kerja modern, terutama untuk posisi yang membutuhkan perekrutan massal seperti layanan pelanggan.

Jackson mengakui bahwa AI memiliki keterbatasan. “AI bagus dalam menilai keterampilan secara objektif, bahkan saya bisa bilang lebih baik dari manusia. Tapi untuk menilai kecocokan budaya perusahaan, saya tidak akan menyarankan AI untuk itu,” pungkasnya.