Tutup
Perbankan

Puluhan Ribu Ton Gula Tak Terserap, Petani Tebu Jatim Ancam Mogok

289
×

Puluhan Ribu Ton Gula Tak Terserap, Petani Tebu Jatim Ancam Mogok

Sebarkan artikel ini
puluhan-ribu-ton-gula-tak-terserap,-petani-tebu-jatim-ancam-mogok
Puluhan Ribu Ton Gula Tak Terserap, Petani Tebu Jatim Ancam Mogok

Surabaya – Ratusan petani tebu di Jawa Timur terancam gulung tikar akibat 76.700 ton gula menumpuk dan tak terserap pasar. Pemerintah didesak segera merealisasikan janji penyerapannya,atau aksi mogok massal akan digelar sebagai opsi terakhir.

Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sunardi Eko Sukamto, mengungkapkan bahwa kondisi ini telah melumpuhkan aktivitas petani tebu di Jatim. “Kami sudah kewalahan luar biasa. Jadi sulit meneruskan tebang angkut dan pembiayaan di kebun kami sudah putus-putus bahkan beberapa pabrik gula (PG) ini sudah tidak bisa giling sebagian dan sisi lain gudang gulanya juga penuh karena gula tidak keluar,” kata Sunardi di Surabaya, Jumat (15/8).

Sunardi menuturkan,pihaknya masih menanti realisasi janji Menteri Pertanian terkait pencairan dana Rp1,5 Triliun dari Danantara ke Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk pembelian gula petani.

Namun, Sunardi menegaskan, jika janji tersebut tak kunjung ditepati, para petani tebu di Jatim siap menggelar aksi demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk protes.”Indonesia hanya mimpi swasembada gula karena pemerintah tidak serius menangani petani. Dan jika anggaran Rp1,5 triliun yang dijanjikan tidak terealisasi, mungkin kami tidak menanam tebu, dan kami lakukan aksi demonstrasi besar-besaran, kami petani tebu akan mogok massal,” ujarnya.

Sunardi menambahkan, seluruh DPC APTRI di Jawa Timur sepakat menuntut pemerintah untuk segera merealisasikan janji-janji yang telah diucapkan kepada petani tebu. Ia menjelaskan, “selama 8 periode panen kami tidak cair hingga gula menumpuk di gudang. Kami harap penyelesaian konkret dari bulan Agustus sampai November ini ada dari pemerintah untuk menyelesaikan secara tuntas bahwa program pemerintah menuju swasembada gula tahun 2027.”

Dewan Pembina DPD APTRI, Arum Sabil, turut mendesak pemerintah untuk segera membeli ratusan ribu ton gula petani yang tidak terserap pasar. menurutnya, petani gula adalah penggerak ekonomi pedesaan. “Jadi kalau di Jatim sekitar 76.700 Ribu ton, dan kalau nasional kan ratusan ribu Ton. Ini tidak bisa menunggu, saya berharap pemerintah dengan segala kerendahan hati, agar pemerintah, siapapun yang punya kewenangan untuk segera direalisasikan janjinya yang akan membeli gula petani dengan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 1,5 Triliun,” kata arum.

Arum menilai, kondisi petani tebu saat ini sangat memprihatinkan akibat banyaknya gula yang tidak terserap pasar, yang disebabkan oleh impor gula rafinasi. Ia mengatakan, “Tentunya usaha pertanian tebu di Indonesia ini yang mayoritas itu adalah bagian dari motor penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. Tentu usaha ini harus menjadi usaha berkelanjutan,kalau hari ini petani mengalami kerugian,maka dampaknya pada produksi di tahun akan datang.”

Arum juga menyarankan pemerintah untuk membentuk badan khusus yang menangani permasalahan petani dan panen gula di Indonesia, agar solusi komprehensif dan terintegrasi dapat dirumuskan. “Panjangnya birokrasi yang tidak terintegrasi ini justru berdampak. Saya khawatir kucuran rencana untuk mengalokasikan Rp 1,5 Triliun dari danantara untuk membeli gula petani ini, karena ribetnya birokrasi antar institusi yang menangani,” lanjutnya.

Arum menambahkan, realisasi janji pemerintah terkait anggaran Rp1,5 Triliun setidaknya dapat membantu petani untuk bertahan hidup dan kembali menanam pada musim panen mendatang. “Paling tidak, ini akan membuat dampak psikologis terhadap pasar gula ya, dan ini juga akan berdampak pada psikologis positif terhadap pedagang yang biasanya membeli gula petani. Para pedagang sekarang ini kan rata-rata tiarap tidak membeli gula petani, karena hari ini membeli, kemudian sore itu tiba-tiba sudah ada kabar harga (turun akibat gula rafinasi), psikologisnya turun sehingga mereka takut,” ucapnya.

Arum juga menegaskan bahwa anggaran Rp1,5 Triliun yang rencananya akan digelontorkan pemerintah untuk membeli gula petani bukanlah kerugian, karena pemerintah akan memiliki gula untuk dijual kembali ke pasar. “Kan Rp 1,5 Triliun itu tidak cuma-cuma. Pemerintah punya gula untuk dijual kembali ke pasar. Jadi pemerintah tidak rugi sama sekali dengan membeli gula petani,” katanya.