Tutup
Perbankan

Ekonom Ungkap Tantangan Purbaya Jabat Menteri Keuangan Gantikan Sri Mulyani

366
×

Ekonom Ungkap Tantangan Purbaya Jabat Menteri Keuangan Gantikan Sri Mulyani

Sebarkan artikel ini
ekonom-beber-setumpuk-pr-purbaya-sebagai-menkeu-pengganti-sri-mulyani
Ekonom Beber Setumpuk PR Purbaya sebagai Menkeu Pengganti Sri Mulyani

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menunjuk purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani. Keputusan ini tertuang dalam Keppres Nomor 86 Tahun 2025.

Penunjukan Purbaya diumumkan di Istana Negara, Senin (8/9), memicu beragam reaksi dari kalangan ekonom.

Ekonom menyoroti sejumlah tantangan besar yang menanti Purbaya sebagai Menteri Keuangan.

Ekonom INDEF, Fadhil Hasan, menilai Purbaya akan menghadapi masalah fiskal yang kompleks.

Fadhil mengakui Purbaya adalah ekonom yang baik, namun meragukan pengalamannya dalam mengelola fiskal dan ekonomi secara menyeluruh.

“Jadi bisa dikatakan dia bukan pilihan terbaik,” ujar fadhil.

Fadhil menilai Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara lebih ideal untuk posisi tersebut karena pengalamannya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, melihat pergantian ini dari sisi teknokratis dan politis.

Rizal menilai Sri Mulyani adalah simbol disiplin fiskal dan kredibilitas di mata pasar global. Pergantian ini berpotensi menimbulkan risiko persepsi.

Beban bunga utang negara yang mencapai Rp553 triliun per tahun dan potensi defisit APBN akibat program belanja besar menjadi perhatian.

Namun, Rizal menekankan bahwa Purbaya memiliki pengalaman sebagai ekonom Danareksa, birokrat lintas kementerian, dan pemimpin LPS.

Tantangan utama Purbaya adalah membuktikan transisi ini bukan pelemahan disiplin fiskal, melainkan penyesuaian strategi yang selaras dengan agenda ekspansif Presiden Prabowo.

Rizal menyoroti kemampuan Purbaya dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan politik belanja besar dan kebutuhan menjaga kredibilitas pasar.”Jika berhasil,pergantian ini bisa dianggap tepat dalam konteks sinkronisasi politik-fiskal,” kata Rizal.

Namun, Rizal mengingatkan kegagalan dapat memicu pelemahan rupiah, lonjakan yield SBN, dan penurunan kepercayaan investor.