Tutup
NewsRegulasi

Laboratorium Perikanan Ekspor RI: Tingkatkan Mutu, Kejar Ketertinggalan!

192
×

Laboratorium Perikanan Ekspor RI: Tingkatkan Mutu, Kejar Ketertinggalan!

Sebarkan artikel ini
image

Jakarta – Ekspor produk perikanan Indonesia masih menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan infrastruktur pengujian bahan baku.

Kondisi ini, ditambah dengan kurangnya sumber daya manusia yang kompeten, menjadi penghambat daya saing di pasar global, demikian diungkapkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, menyampaikan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain dalam hal pengujian bahan baku untuk produk ekspor.

Saat ini, hanya beberapa laboratorium yang memiliki kapabilitas memadai untuk melakukan pengujian tersebut.

Menurut Teguh, kemajuan teknologi harus segera diadopsi untuk mengatasi masalah ini. Indonesia perlu melengkapi peralatan di setiap laboratorium yang sudah ada, bahkan membangun fasilitas baru.

Langkah ini krusial dalam membangun ekosistem ekspor produk perikanan yang lebih baik dan berdaya saing.

Selain infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penting. SDM yang bertanggung jawab menguji bahan baku sebelum diekspor harus memiliki keahlian mumpuni di bidangnya.

Jika ekosistem ini telah lengkap, daya saing Indonesia di pasar global diyakini dapat dipertahankan dan ditingkatkan.

Pangan akuatik merupakan bagian integral dari strategi ekonomi biru Indonesia.

Bappenas memproyeksikan nilai ekonomi biru ini dapat mencapai antara US$ 7,4 triliun hingga US$ 9,8 triliun pada tahun 2045. Pangan akuatik sendiri disebut menyumbang 15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Mengembangkan pangan akuatik berarti meningkatkan ketahanan pangan, mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan memastikan ketahanan,” ujar Teguh di Hotel Le Meridien, Jakarta, pada Rabu, 10 September 2025.

Ia menambahkan, pangan akuatik memiliki peran vital dalam memenuhi asupan protein hewani masyarakat Indonesia.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa Indonesia adalah produsen ikan terbesar kedua di dunia pada tahun 2022, dengan produksi mencapai lebih dari 20 juta ton per tahun.

Sektor perikanan memberikan kontribusi signifikan, yakni sekitar US$ 32,11 miliar atau 2,6 persen dari PDB Indonesia pada tahun yang sama. Tercatat, lebih dari 3,7 juta rumah tangga di Indonesia menggantungkan pendapatan utamanya pada sektor ini.