Tutup
EkonomiNews

Petani Kakao Talawi Didorong Tingkatkan Panen dengan Perawatan Intensif

329
×

Petani Kakao Talawi Didorong Tingkatkan Panen dengan Perawatan Intensif

Sebarkan artikel ini
camat-talawi-bersinergi-dengan-dpk3-untuk-tingkatkan-produksi-kakao
Camat Talawi Bersinergi dengan DPK3 untuk Tingkatkan Produksi Kakao

sawahlunto – Petani kakao di Talawi, Kota Sawahlunto, didorong untuk meningkatkan perawatan tanaman. Langkah ini diharapkan dapat mendongkrak hasil panen kakao yang menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

Camat Talawi, Uchaq Hardian, turun langsung memberikan motivasi kepada para petani kakao pada Senin (22/9). Ia mengunjungi kebun kakao milik salah seorang petani di desa Talawi Hilir.

Uchaq menekankan potensi besar tanaman kakao di Talawi. Luasnya areal perkebunan menjadi modal utama untuk meningkatkan produksi.

“Seharusnya dilakukan pemangkasan dahan agar tidak terlalu rindang,” kata Uchaq. Ia menambahkan, perawatan yang baik akan membuat kakao menghasilkan buah yang lebih banyak.

Sayangnya, Uchaq menyayangkan masih banyak kebun kakao yang kurang terawat.Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kakao Saiyo Talawi, Khairunnas, mengeluhkan hasil panen tahun ini yang kurang menggembirakan akibat kemarau panjang.

Kepala Dinas Pertanian,Ketahanan Pangan,dan Perikanan (DPK3) Kota Sawahlunto,Heni Purwaningsi,mengungkapkan total tanaman kakao di Sawahlunto mencapai 572 ribu batang dengan luas lahan sekitar 520 hektare. Saat ini, produksi kakao mencapai sekitar 292 ton.

Heni menjelaskan, pihaknya terus berupaya menjaga kelestarian kakao melalui pembinaan, sekolah lapangan, serta pemberian pupuk bersubsidi.”Dengan cara ini, diharapkan tanaman kakao tetap produktif dan berumur panjang,” jelas heni, selasa (23/9).

Heni mengakui sebagian besar kakao di Sawahlunto sudah berusia lebih dari 20 tahun sehingga rentan gagal panen.

“Banyak buah busuk sebelum masak. Karena itu, pemangkasan sangat penting agar sinar matahari bisa menembus hingga ke tanah,” ujarnya.

Heni optimistis kakao tetap bisa menjadi penopang ekonomi masyarakat jika dikelola dengan baik. Apalagi, harga kakao sempat mencapai Rp75 ribu hingga Rp125 ribu per kilogram.