Jakarta – Afghanistan mengalami isolasi digital setelah Taliban memutus total akses internet dan telepon seluler di seluruh negeri.
Pemutusan komunikasi yang memasuki hari kedua ini berdampak signifikan pada aktivitas warga.
Taliban, yang kembali berkuasa sejak 2021, secara bertahap membatasi akses internet sejak awal September.
Langkah ini juga memengaruhi layanan telepon yang bergantung pada koneksi internet.
NetBlocks, lembaga pengawas internet, melaporkan penurunan drastis sinyal telepon seluler dan internet sejak Senin (29/9/2025) malam.
konektivitas dilaporkan anjlok hingga kurang dari 1 persen dari kondisi normal.
“Kami buta tanpa ponsel dan internet,” keluh Najibullah,seorang pemilik toko berusia 42 tahun di Kabul.
“Semua bisnis kami bergantung pada ponsel. Pasar benar-benar macet,” tambahnya.
Pemutusan koneksi berkecepatan tinggi di beberapa provinsi telah dimulai sejak pertengahan September atas perintah pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada.
Alasannya, menurut Akhundzada, adalah untuk “mencegah amoralitas”.
Ini adalah kali pertama Taliban memutus komunikasi di seluruh negeri, meskipun sebelumnya pernah memblokir media sosial atau membatasi akses internet.
Pemerintah Taliban belum memberikan penjelasan resmi terkait pemadaman ini.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, mereka menyuarakan kekhawatiran tentang konten pornografi online.
Kelompok hak asasi manusia mengecam tindakan ini dan menilai rezim Taliban berusaha mengisolasi warga Afghanistan dari dunia luar untuk menekan populasi.
Seorang pejabat pemerintah,sebelum pemadaman terjadi,memperingatkan bahwa jaringan serat optik akan diputus,yang berdampak pada layanan telepon seluler.
“Delapan hingga sembilan ribu pilar telekomunikasi akan dimatikan,” kata pejabat tersebut,yang meminta anonimitas.
Pemadaman ini akan berlangsung “hingga pemberitahuan lebih lanjut”.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa sektor perbankan, bea cukai, dan seluruh aktivitas di negara itu akan terpengaruh.
laporan menyebutkan bahwa pemimpin Taliban mengabaikan peringatan dari sejumlah pejabat mengenai dampak ekonomi dari pemutusan internet.
Ia tetap memerintahkan pihak berwenang untuk melanjutkan larangan nasional.







