Jakarta – Kabar baik datang dari sektor energi: bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia mencapai 16 persen.
Angka ini diumumkan Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) dan menunjukkan peningkatan 2 persen dari tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Energi Baru, terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan hal ini dalam sebuah forum di Jakarta, Senin (6/10).
“Semester ini kita sudah mencapai 16 persen renewable energy di dalam energy mix total kita,” ujarnya.
Meski demikian, Eniya mengakui target 23 persen bauran EBT mundur ke 2029 atau 2030.
Pemerintah terus berupaya mengejar target tersebut melalui berbagai rencana.
Salah satunya adalah Rencana Usaha Penyediaan tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034.
RUPTL ini mencakup penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 42,6 gigawatt (GW) yang berasal dari EBT, atau 71 persen dari total penambahan kapasitas.
“Mulai tahun depan sebagian besar tambahan kapasitas pembangkit berasal dari energi terbarukan,” tegas Eniya.
Presiden Prabowo Subianto bahkan menargetkan seluruh pembangkit listrik di Indonesia menggunakan EBT dalam 10 tahun ke depan.
“Kita harus capai 100 persen pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan dalam waktu 10 tahun atau lebih cepat,” kata Prabowo dalam pidatonya terkait RAPBN 2026.
Prabowo meyakini Indonesia dapat mencapai target ini lebih cepat dari negara lain yang menargetkan tahun 2060.
APBN 2026 juga dipastikan mendukung transformasi energi dengan alokasi Rp 402,4 triliun untuk pertahanan energi, termasuk subsidi, insentif perpajakan, dan pengembangan EBT.







