Jakarta – Di tengah tantangan operasional,PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan sinyal positif dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi.
Kinerja maskapai pelat merah ini didorong oleh dukungan pemerintah melalui BPI Danantara.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani, menyatakan langkah strategis perusahaan mulai membuahkan hasil.
Garuda Indonesia Group mencatatkan produktivitas lebih tinggi meski jumlah pesawat yang beroperasi lebih sedikit.
Peningkatan ini tercermin dari naiknya pendapatan per pesawat. Rata-rata pendapatan per armada Garuda Indonesia naik 1,3 persen menjadi US$15,88 juta pada periode Januari-Juni 2025.
Citilink mencatat pertumbuhan lebih signifikan, yaitu 4,4 persen menjadi US$11,47 juta per pesawat.
Pendapatan dari penerbangan charter juga meningkat 15,66 persen menjadi US$205,84 juta. Garuda juga berhasil menekan beban usaha dari US$1,53 miliar menjadi US$1,50 miliar.
Untuk mengatasi keterbatasan armada, Garuda Indonesia Group, dengan dukungan Danantara, telah mengaktifkan kembali lima armada Airbus A320 Citilink hingga awal Oktober 2025.
“Selanjutnya, secara bertahap, kami berharap dapat merestorasi hingga 15 armada pesawat citilink hingga akhir tahun 2025,” ujar Wamildan.
Meski demikian, profitabilitas masih menjadi tantangan utama karena kewajiban keuangan jangka panjang pasca-restrukturisasi terus menekan laporan keuangan.
Garuda Indonesia terus mengoptimalkan strategi perbaikan, termasuk fokus pada rute-rute penerbangan yang menguntungkan melalui program restrukturisasi rute.
“Dengan berbagai upaya perbaikan ini dan dukungan penuh Danantara, kami menargetkan Garuda Indonesia dapat segera memperbaiki posisi ekuitas kami menjadi positif pada akhir tahun ini,” pungkas Wamildan.







