Jakarta – Industri kesehatan nasional didorong untuk memperkuat strategi dan inovasi. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap tantangan dunia medis dan perkembangan kesehatan global.
Untuk itu, International Military Medicine Symposium and Workshop (IMEDIC) ke-2 digelar.
Ajang ini mengusung tema “Biosecurity and Biosafety in healthcare Services”. Tujuannya mempromosikan pertukaran pengetahuan, penyajian teknologi inovatif, dan pengembangan strategi kolaboratif.
“Demi menjunjung tinggi integritas sistem kesehatan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan kesehatan kerja,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara IMEDIC 2025, Dr.dr Dian Andriani, Senin (3/11/2025).
IMEDIC 2025 melibatkan sekitar 200 peserta. Mereka terdiri dari perwakilan kementerian/lembaga serta para ahli medis militer dari berbagai negara.
Dian menjelaskan, IMEDIC 2025 menjadi forum strategis untuk membahas strategi dan inovasi di sektor kesehatan dan obat-obatan.
Ia pun mendorong peran aktif dan partisipasi peserta dalam berbagai kegiatan simposium dan workshop.
“Mari kita berbagi ilmu pengetahuan, membangun kemitraan, dan memperbarui komitmen untuk melindungi manusia melalui ilmu pengetahuan, kedisiplinan, dan kasih sayang,” katanya.
Dian mengingatkan,dalam menghadapi ancaman biologi,kerjasama menjadi kunci kekuatan pertahanan Indonesia.
Ia berharap IMEDIC 2025 dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan sektor kesehatan dan obat-obatan nasional.
“Saya ingin berterima kasih terhadap seluruh kontribusi yang telah diberikan terutama dari Kementerian Pertahanan, Kementerian Kesehatan, Perdokmil, partner nasional dan internasional,” ucapnya.
“Saya juga ingin mengucapkan selamat datang dan terima kasih juga kepada perwakilan kedutaan besar dari Sri Lanka, malaysia, dan kanada,” imbuhnya.
Sementara itu, mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerjasama WHO, Prof.Tikki Pangestu, menekankan pentingnya implementasi inovasi untuk menghasilkan obat-obatan yang mampu mengatasi penyakit masyarakat.
“Setidaknya terdapat dua inovasi penting yang baru saya dengar yaitu stem cell therapy dan tobacco harm reduction. Inovasi yang dikombinasikan dengan potensi ekonomi menjadi modal yang sangat baik di sektor kesehatan,” pungkasnya.
Baca juga: Puluhan Anak Kena ISPA Diduga Terdampak Uji Coba RDF Plant Rorotan.







