Tutup
PendidikanPerbankanTeknologi

Siswi SMA Ciptakan Baterai Biopolimer, Energi Terbarukan Indonesia

171
×

Siswi SMA Ciptakan Baterai Biopolimer, Energi Terbarukan Indonesia

Sebarkan artikel ini
siswi-sma-teliti-baterai-elektrolit-biopolimer,-pertama-di-indonesia
Siswi SMA Teliti Baterai Elektrolit Biopolimer, Pertama di Indonesia

Jakarta – Kabar membanggakan datang dari dunia sains Indonesia. Seorang siswi SMA, Gracelyn Atmadja, turut mengembangkan inovasi baterai ramah lingkungan.

Gracelyn menjadi bagian dari tim peneliti yang berfokus pada pembuatan pemisah elektrolit padat biopolimer berbasis pati.

Penelitian ini menjadi yang pertama di Indonesia dengan fokus tersebut.

Proyek ini dilakukan di bawah bimbingan para ahli dari Universitas Indonesia (UI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Gracelyn mengungkapkan kepeduliannya terhadap masalah limbah industri dan kerusakan lingkungan sebagai motivasi utama.

“Setiap hari kita bergantung pada teknologi, tetapi sering kali kita mengabaikan dampak ekologis di baliknya. Karena itu, saya ingin melakukan sesuatu yang berarti bagi planet ini,” ujarnya.

Teknologi baterai modern saat ini masih bergantung pada material berbasis petrokimia yang berbahaya.

Baterai konvensional juga berpotensi mencemari lingkungan karena penggunaan elektrolit cair berbasis litium yang beracun.

Penelitian ini bertujuan mencari alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Prof. Mochamad Chalid dari UI memberikan dukungan penuh pada penelitian Gracelyn.

Ia menekankan pentingnya menanamkan semangat sains sejak dini.

“Rasa ingin tahu, dedikasi, dan semangat belajar, seperti yang ditunjukkan Gracelyn, membuktikan bahwa kemajuan ilmiah adalah perjalanan jangka panjang yang harus diteruskan lintas generasi,” kata Prof.Chalid.

Dr. Christin Rina Ratri dari BRIN juga mengakui dedikasi Gracelyn.

Ia menyebut riset baterai padat berbasis pati ini berpotensi dikembangkan ke skala industri.

Tim peneliti mengembangkan material biopolimer terbarukan dengan pati sebagai bahan dasar.

Pati dipilih karena strukturnya mendukung migrasi ion.

Material ini diharapkan dapat menggantikan pemisah petrokimia yang berbahaya.

“Terlibat dalam setiap tahap dari awal hingga akhir adalah pengalaman luar biasa. Saya belajar bahwa sains bukan hanya tentang hasil, tapi juga tentang memahami kesalahan dan memperbaikinya,” ungkap Gracelyn.

Prof. Chalid menambahkan, penelitian ini penting untuk mendorong pemanfaatan material lokal yang ramah lingkungan dan efisien secara biaya.

“Indonesia menghadapi tantangan besar di bidang energi dan keberlanjutan. Penelitian ini bernilai tinggi karena memanfaatkan sumber daya lokal yang aman dan murah,” jelasnya.

Penelitian ini akan dilanjutkan ke tahap uji reproduktibilitas dan skala industri.

Tujuannya agar dapat diterapkan dalam sistem baterai nasional.

Inovasi ini diharapkan dapat mendukung produksi baterai ramah lingkungan untuk kendaraan listrik di Indonesia.

Serta memperkuat posisi Indonesia dalam gerakan global menuju energi berkelanjutan.