Tutup
InspirasiPojok

5 Dampak Besar Jika Penerbangan Bali ke Padang Terwujud

793
×

5 Dampak Besar Jika Penerbangan Bali ke Padang Terwujud

Sebarkan artikel ini

Dengan rute ini, wisatawan internasional tak lagi harus melakukan transit berulang dari Jakarta atau Batam untuk menjangkau Bukittinggi, Danau Maninjau, atau Kepulauan Mentawai.

Jakarta – Gagasan pembukaan rute penerbangan langsung antara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Bali) dan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) oleh Senator Sumatera Barat, Irman Gusman, menjadi salah satu ide strategis untuk mengakselerasi daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif di Ranah Minang dan Kepulauan Mentawai.

Usulan ini mencuat dalam forum “Sharing Session” di Menara 88 Jakarta, Senin (10/11/2025), yang turut menghadirkan pakar pemasaran nasional Hermawan Kartajaya, pemilik TransNusa Air Leo Budiman, serta Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardhana.

Irman menegaskan bahwa konektivitas menjadi kunci untuk memperkuat branding pariwisata Sumatera Barat.

Menurutnya, membuka jalur penerbangan langsung dari Bali—yang sudah menjadi gerbang utama turis mancanegara akan memperpendek rantai perjalanan wisata dan membuka peluang ekonomi yang jauh lebih besar bagi pelaku usaha lokal.

Dengan rute ini, wisatawan internasional tak lagi harus melakukan transit berulang dari Jakarta atau Batam untuk menjangkau Bukittinggi, Danau Maninjau, atau Kepulauan Mentawai.

Potensi Arus Wisatawan Internasional

men's white crew neck shirtBali saat ini menjadi pintu masuk utama wisatawan dunia. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), sepanjang 2024, Bali menerima sekitar 5,2 juta wisatawan mancanegara.

Dari jumlah tersebut, sekitar 28 persen wisatawan asing menunjukkan minat menjelajahi destinasi lain di Indonesia.

Dengan koneksi langsung ke Padang, sebagian besar dari wisatawan tersebut dapat diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke Sumatera Barat tanpa harus kembali ke Jakarta.

Irman memperkirakan potensi arus lanjutan ini bisa mencapai 150 ribu hingga 200 ribu orang per tahun, sebuah angka yang akan memberikan dampak signifikan pada sektor wisata dan ekonomi daerah.

Potensi Penguatan Ekonomi Kreatif dan UMKM

ikuti-kebutuhan-pasar,-umkm-kuliner-binaan-bri-sukses-ekspansi-pasar-internasional
Ikuti Kebutuhan Pasar, UMKM Kuliner Binaan BRI Sukses Ekspansi Pasar Internasional

Pembukaan rute Bali–Padang akan memberikan efek berantai terhadap ekonomi lokal, terutama pada sektor UMKM, kuliner, dan penginapan.

Sumatera Barat dikenal dengan keunggulan produk ekonomi kreatif berbasis budaya, mulai dari kuliner Minangkabau, kerajinan tangan, hingga fesyen etnik yang bernilai ekspor.

Dengan peningkatan kunjungan wisatawan asing, permintaan terhadap produk-produk tersebut akan melonjak.

Para pelaku UMKM juga akan terdorong untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan mereka.

Hermawan Kartajaya menegaskan, dalam ekonomi wisata modern, aksesibilitas dan pengalaman wisatawan menjadi faktor paling menentukan.

Koneksi langsung berarti memperpendek jarak antara pasar global dan produk lokal.

Potensi Penguatan Destinasi Mentawai Sebagai Magnet Internasional

a man riding a wave on top of a surfboard
Mentawai

Kepulauan Mentawai selama ini telah menempati posisi strategis di peta wisata dunia sebagai salah satu dari 10 besar destinasi selancar terbaik global.

Dua titik ombaknya bahkan masuk daftar lokasi selancar kelas dunia. Data dari pemerintah daerah menunjukkan pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun untuk wisatawan asing yang datang ke Mentawai. Dengan dibukanya rute Bali–Padang, akses menuju Mentawai menjadi jauh lebih singkat, efisien, dan ekonomis.

Wisatawan dari Australia, Eropa, dan Amerika Latin yang selama ini transit di Bali dapat langsung melanjutkan penerbangan ke BIM sebelum menyeberang ke Mentawai, tanpa kehilangan waktu dan biaya tambahan.

Ini akan memperkuat posisi Mentawai sebagai episentrum wisata bahari Indonesia bagian barat.

Potensi Peningkatan Investasi Infrastruktur dan Transportasi

Konektivitas udara baru ini berpotensi mendorong percepatan investasi di sektor infrastruktur pariwisata.

Bandara Internasional Minangkabau dan pelabuhan-pelabuhan penghubung ke Kepulauan Mentawai akan membutuhkan modernisasi fasilitas untuk melayani lonjakan wisatawan.

Hal ini mencakup perluasan apron, peningkatan kapasitas transportasi darat, serta pengembangan akomodasi ramah wisatawan.

Pemerintah daerah dan investor swasta dapat memanfaatkan peluang ini untuk membangun jaringan transportasi terpadu antara Padang, Bukittinggi, dan Mentawai.

Penguatan infrastruktur tidak hanya berdampak pada pariwisata, tetapi juga membuka peluang logistik dan perdagangan antarwilayah.

Potensi Branding Global “Cultural Heritage Meets Global Connectivity”

Foto : Khazminang

Sumatera Barat memiliki modal budaya yang sangat kuat: rumah gadang, randai, kuliner rendang, hingga filosofi adat Minangkabau.

Namun potensi ini sering kali tidak terkomunikasikan secara global karena keterbatasan akses.

Melalui koneksi langsung dengan Bali, branding Sumatera Barat dapat diposisikan ulang dengan narasi baru: “Cultural Heritage Meets Global Connectivity.”

Konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi bentuk integrasi antara nilai budaya lokal dengan kemudahan akses global.

Bali akan menjadi pintu masuk budaya dunia, sementara Ranah Minang menawarkan pengalaman autentik yang berakar pada tradisi.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih menanti.

Pertama, kesiapan infrastruktur di Bandara Minangkabau dan jaringan transportasi ke destinasi utama harus dipastikan matang.

Kedua, perlu sinergi nyata antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan maskapai agar rute ini tidak berhenti pada tataran ide.

Ketiga, promosi dan riset pasar yang akurat harus mendahului peluncuran, agar potensi kunjungan benar-benar sesuai dengan profil wisatawan target.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Barat periode 2022, Audy Joinaldy, telah melakukan penjajakan kerja sama penerbangan langsung Bali–Padang dengan Pemprov Bali dan Air Asia.

Upaya tersebut menjadi fondasi awal dari ide yang kini kembali digerakkan oleh Irman Gusman.

Perbedaannya, kali ini dorongan datang dengan dukungan lebih luas dari sektor swasta dan pakar pemasaran nasional.

Apabila rute Bali–Padang benar-benar terealisasi, dampaknya tidak hanya akan terasa pada peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga pada transformasi ekonomi kreatif Sumatera Barat secara menyeluruh.

Rute ini bisa menjadi momentum kebangkitan sektor pariwisata Ranah Minang, menjadikannya salah satu simpul penting dalam jaringan wisata nasional, di mana budaya, alam, dan konektivitas berpadu membentuk masa depan pariwisata yang lebih kompetitif.