Tutup
News

Bencana Landa Padang Pariaman, Banjir dan Longsor Mengancam

198
×

Bencana Landa Padang Pariaman, Banjir dan Longsor Mengancam

Sebarkan artikel ini
banjir,-longsor-dan-pohon-tumbang-landa-padang-pariaman
Banjir, Longsor dan Pohon Tumbang Landa Padang Pariaman

PARIK MALINTANG – Bencana melanda Padang pariaman akibat hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir. Banjir, tanah longsor, jalan terban, hingga pohon tumbang terjadi di sejumlah titik.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menetapkan status siaga bencana. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Padang Pariaman, Rudi Repenaldi Rilis, menyebutkan, hingga Minggu (23/11) siang, terdata 15 titik bencana.

“Banjir terjadi di Nagari Manggopoh, Kampuang Galapuang, Ulakan Tapakih, Lubuak Aluang, Perumahan Kasai, Batang Anai, Sintuak, dan Sicincin,” jelas Rudi.

Intensitas hujan yang terus meningkat menyebabkan jumlah titik bencana bertambah.

“Kami bersama Bupati masih berada di lapangan, di lokasi bencana,” imbuhnya.

Data sementara menunjukkan sekitar 500 kepala keluarga (KK) terdampak banjir.

selain banjir, tanah longsor juga terjadi di beberapa lokasi, termasuk sebuah sekolah di Batang Gasan.

Sejumlah ruas jalan dilaporkan terban, salah satunya ruas jalan Padang Baru – Kampuang Bonai, Nagari Parikmalintang, Kecamatan Anam Lingkuang.

Di tapakih, Ulakan, dilaporkan rumah warga tertimpa pohon tumbang.

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, telah melaporkan langsung amblesnya ruas jalan Padang Baru-Kampuang Bonai ke Sestama BNPB agar segera mendapatkan bantuan.”Ini sangat vital,” kata Bupati John kenedy Azis, seperti dikutip Sekda Rudi.

Bupati telah memerintahkan seluruh jajaran untuk siaga dan akan mengadakan rapat darurat bencana. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem.

Upaya normalisasi muara sungai di Ulakan dan Perumahan Bumi Kasai yang dilakukan pemerintah dinilai sangat membantu masyarakat.

“Jika normalisasi tidak dilakukan, bisa dipastikan bencana besar akan mendera masyarakat sekitar,” ujar sekda Rudi.

Menurutnya, berkat upaya tersebut, ketinggian air tidak separah tahun 2024 lalu, meskipun intensitas hujan sangat tinggi.

“Bisa kita bayangkan jika tidak ada upaya normalisasi itu dulunya,” pungkas Sekda.