Tutup
News

Sawit Sumatera: Pakar Membantah Picu Bencana Alam

201
×

Sawit Sumatera: Pakar Membantah Picu Bencana Alam

Sebarkan artikel ini
kebun-sawit-dinilai-bukan-pemicu-bencana-di-sumatera,-intip-penjelasan-pakar
Kebun Sawit Dinilai Bukan Pemicu Bencana di Sumatera, Intip Penjelasan Pakar

Jakarta – Pakar dari IPB University menyoroti analisis penyebab banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera. Mereka menekankan pentingnya kajian yang cermat dan berbasis data akurat.

Dua pakar, Prof. Sudarsono Soedomo (Guru Besar Kebijakan kehutanan) dan Prof. Budi Mulyanto (Kepala Pusat Studi Sawit), mempertanyakan pandangan yang terburu-buru mengaitkan bencana tersebut dengan perkebunan kelapa sawit.

“Saya tidak sependapat dengan tudingan bahwa pembukaan hutan untuk kebun sawit sebagai pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera,” tegas Budi Mulyanto, Kamis (4/12/2025).

menurutnya, intensitas hujan deras menjadi penyebab utama bencana hidrometeorologi tersebut.

Budi mengutip pernyataan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, yang menyebut curah hujan ekstrem pada akhir November setara dengan akumulasi 1,5 bulan dalam satu hari.

Kondisi tanah yang tidak mampu menampung volume air besar dalam waktu singkat menjadi pemicu utama bencana.

“Dalam ekosistem apapun, kalau hujannya sudah segitu, kecepatan infiltrasi air itu tidak bisa tertampung ke dalam tanah,” jelas Budi. “Run off-nya atau aliran permukaannya itu pasti besar. Walaupun itu terjadi di hutan belantara.”

Data BMKG mencatat curah hujan saat itu mencapai 411 mm.

Budi mengingatkan agar bencana ini tidak dijadikan momentum untuk “membunuh karakter land use” di Indonesia.

Ia menambahkan, banjir bandang dan tanah longsor tidak hanya terjadi di Sumatera, tetapi juga di Malaysia, Thailand, dan Vietnam, yang dipicu tingginya curah hujan akibat badai siklon tropis Senyar.

Sudarsono Soedomo menambahkan, persoalan kehutanan Indonesia lebih kompleks dari sekadar ekspansi sawit.

Banyak kawasan hutan telah mengalami degradasi parah akibat pembalakan liar, tata kelola lemah, dan ketidaktegasan negara.