Tutup
InvestasiNewsPerdaganganTransportasi

Semen Rendah Karbon SIG Bangun Infrastruktur Berkelanjutan Batam

424
×

Semen Rendah Karbon SIG Bangun Infrastruktur Berkelanjutan Batam

Sebarkan artikel ini
dorong-infrastruktur-berkelanjutan-di-batam,-sig-beberkan-inovasi-semen-rendah-karbon
Dorong Infrastruktur Berkelanjutan di Batam, SIG Beberkan Inovasi Semen Rendah Karbon

Batam – Semen Indonesia Group (SIG) memperkenalkan inovasi material konstruksi rendah karbon untuk mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Batam. Inovasi ini menjawab tantangan kondisi geologis khusus seperti tanah lunak dan sulfat.

Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari, menjelaskan bahwa inovasi ini meliputi semen tipe khusus, stabilisasi tanah, serta inovasi beton seperti ThruCrete (beton berpori) dan SpeedCrete (beton cepat kering).

“Selain semen rendah karbon, SIG juga memperkenalkan solusi konstruksi tahan lingkungan ekstrem,” kata Reni dalam acara ‘Inovasi Material dan Solusi untuk Infrastruktur Batam yang Berkelanjutan Wujud Bangga bangun Indonesia’ di Batam, Sabtu (6/12/2025).

Acara yang bekerja sama dengan BP batam ini dihadiri sekitar 100 praktisi konstruksi.

Wakil Direktur Utama SIG, Andriano Hosny Panangian, menegaskan komitmen perusahaan untuk menyediakan solusi pembangunan berkelanjutan.

“Kami percaya pembangunan Batam harus selaras dengan tren global agar tetap kompetitif dan berkelanjutan,” ujar Andriano.

Menurutnya, dunia konstruksi saat ini bergerak menuju dekarbonisasi, dan SIG berperan aktif mendukung target Net Zero Emission.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menekankan pentingnya dekarbonisasi dalam konstruksi.

“Konsep ini diperlukan di Indonesia untuk memastikan pengembangan konstruksi mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang,” tegasnya.

Batam terus berupaya memperkuat posisinya sebagai pusat industri, perdagangan, dan investasi internasional dengan mengembangkan infrastruktur transportasi darat.Infrastruktur seperti jalan raya,bandara,dan pelabuhan menjadi kunci konektivitas antar wilayah dan penggerak ekonomi. Namun, kondisi geologis dan perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan infrastruktur jangka panjang.