Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) purbaya Yudhi Sadewa menyatakan belum akan membahas nasib pegawai Direktorat Jenderal Bea dan cukai (DJBC) dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Rini Widyantini.
Menurut Purbaya, saat ini masih terlalu dini untuk membicarakan potensi pembekuan pegawai Bea Cukai.
“Masih terlalu dini untuk ngomong dengan Menpan RB (Rini) tentang pembekuan pegawai. Masih belum ke sana langkahnya,” kata Purbaya usai peresmian alat pemindai peti kemas di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (12/12).
Purbaya menegaskan fokus utama dalam satu tahun ke depan adalah perbaikan internal Bea Cukai.
Ia berencana menerapkan teknologi canggih dan meningkatkan pelatihan bagi para pegawai.
Menkeu melihat adanya keseriusan dari internal Bea Cukai untuk melakukan perbaikan.
Hal ini ditunjukkan dengan peluncuran alat pemindai peti kemas (X-Ray) serta inovasi digital seperti self Service Report Mobile (SSR-Mobile) dan Trade AI.
Purbaya menjelaskan, penggunaan alat pemindai akan memperkuat transparansi dan keamanan arus barang, serta menutup celah kecurangan.
Sementara itu, Trade AI diklaim mampu mencegah praktik underinvoicing.
“Artinya, mereka (Bea Cukai) mampu. Emang perlu didorong-dorong aja, digebuk-gebuk, dorong-dorong lah. Ini mereka orang pintar, jadi kita gak usah khawatir,” ujarnya.
purbaya menambahkan, jika dalam satu tahun ke depan tidak ada kemajuan, barulah opsi pembekuan Bea Cukai dan merumahkan 16 ribu pegawai akan dipertimbangkan.
Sebelumnya, Menpan RB rini Widyantini mengungkapkan keinginannya untuk membahas nasib 16 ribu pegawai Bea cukai yang terancam dirumahkan dengan Menkeu Purbaya.
Rini mengaku belum sempat berdiskusi langsung dengan Purbaya karena kesibukan sang Menteri Keuangan.
“Tentunya saya harus lihat apakah lembaganya atau sistemnya yang memang harus diperbaiki, baru kita bicara orangnya. Jadi, saya memang belum ada diskusi dengan beliau (Purbaya),” kata Rini usai konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (11/12).







