Tutup
EkonomiPerbankan

Sulsel Antisipasi Defisit Cabai dan Bawang Putih Saat Nataru

194
×

Sulsel Antisipasi Defisit Cabai dan Bawang Putih Saat Nataru

Sebarkan artikel ini
sulsel-defisit-519-ton-cabai-dan-bawang-putih-669-ton-jelang-nataru
Sulsel Defisit 519 Ton Cabai dan Bawang Putih 669 Ton Jelang Nataru

Makassar – Sulawesi Selatan (Sulsel) bersiap menghadapi potensi kekurangan pasokan cabai rawit dan bawang putih menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kekurangan ini diprediksi terjadi karena permintaan yang biasanya melonjak saat perayaan hari besar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, M. Ilyas, mengungkapkan data neraca pangan Desember menunjukkan defisit cabai rawit mencapai 519 ton dan bawang putih 669 ton.

“Untuk neraca cabai rawit, kita memang minus 519 ton di Sulsel. Jadi, ketahanannya minus 6 hari. Stoknya memang kurang,” jelas Ilyas.

Kondisi serupa juga terjadi pada bawang putih. Data dari 24 kabupaten/kota menunjukkan stok bawang putih sudah menipis sejak Oktober lalu.

“Bawang putih itu bulan Oktober lalu memang rendah, sekarang sudah minus juga. Neracanya minus 16 hari. Kita kekurangan kurang lebih 669 ton di Sulsel,” imbuhnya.

Ilyas menyebutkan Kabupaten Jeneponto masih memiliki stok panen cabai yang cukup untuk menambah pasokan.

Namun, beberapa daerah lain seperti Sidrap dan Tana Toraja justru mengalami kekurangan.Faktor cuaca dan musim juga mempengaruhi produksi cabai rawit. Petani cenderung mempercepat panen sejak September untuk menghindari kerusakan tanaman akibat hujan.

“Petani tahu kalau musim hujan pasti rusak. Jadi mereka panen lebih awal. Stok yang masih tinggi sekarang itu ada di Jeneponto, sekitar 2.000 hingga 2.500 ton,” kata ilyas.

Pemerintah Provinsi Sulsel telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengatasi kekurangan ini.

langkah-langkah tersebut meliputi penyediaan distribusi, gerakan pangan murah, dan optimalisasi pendistribusian komoditas antar wilayah kabupaten/kota.”Untuk Nataru ini, kita sudah rapat. Yang kita lakukan adalah penyediaan distribusi, gerakan pangan murah, dan upaya mendistribusikan pangan antarwilayah,” pungkas Ilyas.