Tutup
News

DPR Dorong Petani Aktif Kendalikan Kebijakan Pangan Nasional

267
×

DPR Dorong Petani Aktif Kendalikan Kebijakan Pangan Nasional

Sebarkan artikel ini
anggota-dpr-dorong-petani-harus-jadi-subjek-utama-kebijakan-pangan,-ini-alasannya
Anggota DPR Dorong Petani Harus jadi Subjek Utama Kebijakan Pangan, Ini Alasannya

Jakarta – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menilai kedaulatan pangan Indonesia sulit tercapai jika petani hanya jadi objek kebijakan.

Menurutnya, petani selama ini hanya berperan sebagai pelaksana program, penerima bantuan, atau tenaga kerja di lahan yang bukan milik mereka.”petani harus ditempatkan sebagai subjek utama,” tegas Azis dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/12/2025).Azis menjelaskan, petani sebagai subjek utama berarti memiliki hak atas tanah, ruang menentukan pilihan usaha tani, posisi tawar di pasar, dan menikmati nilai tambah dari kerja kerasnya.

Ia mengingatkan, peningkatan produksi pangan tanpa perlindungan petani justru membuat sistem pangan rentan. Kenaikan biaya produksi, tekanan lahan, atau penurunan harga akan berdampak besar pada petani kecil.

Azis menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2023-2025 yang menunjukkan peran penting Jawa Tengah sebagai penopang pangan nasional.

Pada 2023, produktivitas padi Jawa Tengah mencapai 55,24 kuintal per hektare dengan produksi 9,06 juta ton. Produktivitas meningkat pada 2024 menjadi 57,19 kuintal per hektare, namun produksi turun karena luas panen menyusut.

Pada 2025, luas panen kembali meningkat dan produksi diproyeksikan mencapai 9,38 juta ton.

“produktivitas saja tidak cukup bila lahan makin terdesak, ongkos produksi membengkak, dan petani tidak punya kepastian usaha,” kata Azis.Menurutnya, menempatkan petani sebagai subjek tidak cukup hanya dengan mengejar angka produksi. Kebijakan pangan, termasuk program food estate, harus sejalan dengan reforma agraria yang berkeadilan.

“Tanpa pembenahan struktur penguasaan tanah, proyek pangan berisiko memperlebar konflik agraria, menyingkirkan petani kecil, dan menambah tekanan ekologis,” jelasnya.

Azis juga menekankan bahwa isu pangan tidak bisa dipisahkan dari persoalan lingkungan. Data longsor pada 2024 di Wonosobo dan Magelang menjadi peringatan bahwa ketahanan pangan harus terintegrasi dengan mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan.Ia mengingatkan bahwa wilayah tersebut tidak hanya bergantung pada padi. Temanggung adalah salah satu sentra cabai rawit terbesar di Jawa Tengah, sementara Wonosobo dan Magelang memiliki basis hortikultura penting lainnya.”Diversifikasi pangan dan penguatan hortikultura bukan aksesori, melainkan strategi menjaga pendapatan petani sekaligus menjaga pasokan,” pungkas azis.