Tutup
Regulasi

Harga Beras Dunia Anjlok: Analisis Pakar Pertanian Ungkap Penyebabnya

186
×

Harga Beras Dunia Anjlok: Analisis Pakar Pertanian Ungkap Penyebabnya

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Klaim Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman soal penghentian impor beras Indonesia berpengaruh pada penurunan harga beras global dibantah oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi). Menurut Perhepi, faktor utama penurunan harga beras dunia lebih disebabkan oleh peningkatan produksi dan ekspor dari negara-negara produsen.

Khudori, Pengurus Pusat Perhepi, menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak melakukan impor beras tahun ini, permintaan beras secara global tidak mengalami penurunan.

Sebelumnya, Mentan Amran Sulaiman mengklaim bahwa keputusan Indonesia untuk tidak mengimpor beras pada tahun 2025 telah berkontribusi pada penurunan harga komoditas pangan tersebut di pasar global. Amran bahkan menyebut Indonesia telah berhasil menurunkan harga beras dunia dari US$ 650 per ton menjadi US$ 371 per ton berkat kebijakan tersebut.

Namun, Khudori menjelaskan bahwa data dari Bank Dunia dan Index Mundi menunjukkan harga beras Thailand kualitas patahan 5 persen pada November 2025 tercatat senilai US$ 368 per ton, atau lebih rendah 44 persen dari Januari 2024 yang mencapai US$ 660 per ton.

Data dari FAO dan Bank Dunia juga menunjukkan tren penurunan harga beras patahan 5 persen di negara-negara eksportir sepanjang tahun 2025. India mengalami penurunan harga ekspor beras patahan 5 persen sebesar 19 persen. Penurunan juga terjadi pada harga beras patahan 5 persen dari Thailand, Amerika Serikat, Uruguay, dan Pakistan masing-masing sebesar 17,6 persen; 20,7 persen; 31,4 persen; dan 22,3 persen.

Khudori berpendapat, jika tidak ada lonjakan pasokan dan permintaan, harga beras global akan stabil di level US$ 400 per ton. Ia menyoroti peran India sebagai eksportir beras terbesar dunia yang pembatasan ekspornya dapat memicu kenaikan harga beras global.

Merujuk data FAO, Khudori menjelaskan bahwa penurunan harga beras dunia saat ini lebih disebabkan oleh prospek peningkatan produksi di negara-negara produsen dan peningkatan ekspor dari India.

FAO memperkirakan produksi beras global pada periode 2024-2025 akan mencapai 549,9 juta ton, meningkat 14,7 juta ton dibandingkan periode 2023-2024 yang sebesar 535,2 juta ton. USDA juga memperkirakan produksi beras global 2024-2025 mencapai 541,3 juta ton, meningkat 17,3 juta ton dari tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi tertinggi terjadi di India (8,8 persen), diikuti Indonesia (3,3 persen), Thailand (4 persen), Brazil (20,8 persen), dan AS (2,8 persen).

Dengan peningkatan produksi ini, suplai beras global diperkirakan mencapai 749,1 juta ton, sementara permintaan sekitar 539,8 juta ton. Menurut FAO, peningkatan volume permintaan beras sebesar 11,1 juta ton menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Pertumbuhan permintaan beras dunia didorong oleh peningkatan konsumsi di wilayah Afrika akibat peningkatan pendapatan, urbanisasi, pertambahan jumlah penduduk, dan perubahan pola konsumsi dari non-beras ke beras.

Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia menempati peringkat keempat negara importir beras. Negara importir beras terbanyak adalah Cina, Uni Eropa, dan Filipina.

Khudori mengakui bahwa impor beras Indonesia pada tahun 2024 (4,519 juta ton) dan 2023 (3,062 juta ton) memang mempengaruhi harga beras dunia.

Meskipun Bulog tidak mendapat penugasan impor beras konsumsi tahun ini, Indonesia tetap melakukan pengadaan untuk beras khusus dan industri oleh pihak swasta. Impor beras khusus seperti Basmati, Japonica, Thai Hom Mali, dan beras patahan mencapai 364,3 ribu ton dari Januari hingga Oktober 2025.

Khudori mengingatkan pemerintah untuk memastikan produksi beras berkelanjutan, karena surplus produksi tahun ini lebih disebabkan oleh penambahan luas panen, bukan peningkatan produktivitas.