Jakarta – Indeks IDX SMC Liquid, yang mencerminkan kinerja saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil yang likuid, diprediksi masih akan melanjutkan tren positif hingga tahun 2026.
Prospek cerah ini didorong oleh potensi rotasi dana investor ke saham lapis dua, terutama jika siklus penurunan suku bunga mulai bergulir.
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, meyakini bahwa IDX SMC Liquid berpeluang mengungguli indeks lainnya (outperform) pada tahun 2026.
“Valuasi yang relatif lebih murah dan potensi pertumbuhan laba yang lebih besar menjadi daya tarik utama,” ujar Sukarno.
Meski demikian, Sukarno mengingatkan investor untuk mewaspadai volatilitas IDX SMC Liquid yang cenderung tinggi. Indeks ini lebih sensitif terhadap sentimen global, risiko makroekonomi, dan potensi kembalinya dana ke saham berkapitalisasi besar saat pasar memasuki fase defensif.
Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) diperkirakan akan menjadi penggerak utama indeks, didukung oleh tren harga yang positif dan bobotnya yang paling besar dalam IDX SMC Liquid.
Selain PTRO, saham-saham berbobot besar lainnya seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT XL Axiata Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga dinilai menarik.
Emiten-emiten ini memiliki valuasi yang relatif murah sehingga berpotensi menguat dan menopang kinerja IDX SMC Liquid.
Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menambahkan bahwa penguatan IDX SMC Liquid sekitar 16% sepanjang tahun 2025 mencerminkan adanya rotasi minat investor ke saham lapis dua, karena valuasi saham-saham ini masih lebih rendah dibandingkan saham berkapitalisasi besar.
“Secara karakter, saham lapis dua memiliki beta yang lebih tinggi sehingga lebih sensitif terhadap perubahan sentimen makro, khususnya ekspektasi penurunan suku bunga,” kata Imam.
Sektor-sektor seperti properti, konstruksi, consumer discretionary, dan emiten dengan tingkat leverage menengah diperkirakan akan menjadi penerima manfaat utama dari penurunan suku bunga.
Penurunan biaya pendanaan dan potensi percepatan pertumbuhan laba menjadi faktor pendorong minat investor terhadap saham-saham IDX SMC Liquid sepanjang tahun 2025.
Pada tahun 2026, prospek saham lapis dua diperkirakan masih menarik, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap pelonggaran moneter. Namun, investor tetap diimbau untuk selektif terhadap risiko sektoral.
Dari sisi komoditas, rencana pemangkasan produksi nikel berpotensi mengubah dinamika sektor nikel. Pengetatan suplai dapat menopang harga nikel dan berdampak positif bagi emiten dengan cadangan berkualitas dan struktur biaya rendah.
Sebaliknya, perusahaan smelter berisiko menghadapi tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku.
“Dengan karakter beta yang tinggi, saham lapis dua berpotensi memberikan kinerja yang relatif lebih baik dalam fase penurunan suku bunga, namun tetap rentan terhadap volatilitas sehingga pendekatan stock selection berbasis fundamental menjadi kunci pada 2026,” pungkas Imam.







