Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat aturan terkait skema pembayaran ‘kecebong’ atau tadpole pada pinjaman online (pinjol).Langkah ini diambil untuk melindungi konsumen dari praktik pendanaan yang dianggap merugikan.
Skema tadpole sendiri merupakan model cicilan pinjol dengan pembayaran besar di awal, kemudian mengecil di periode selanjutnya. Bentuknya menyerupai kecebong, dengan ‘kepala’ besar di awal dan ‘ekor’ yang mengecil.
Kepala Eksekutif Pengawasan Lembaga Pembiayaan, perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) Agusman menjelaskan, pembatasan ini bertujuan melindungi konsumen.
“Untuk melindungi konsumen atas praktik pendanaan tidak sehat, OJK telah membatasi praktik skema pembayaran tadpole oleh Penyelenggara Pindar,” kata Agusman dalam keterangan tertulis, Rabu (17/12).
Agusman menyebutkan, skema pembayaran tadpole hanya diperbolehkan jika memenuhi tiga syarat utama.
Pertama, harus mematuhi batasan manfaat ekonomi yang berlaku. Kedua, harus transparan dengan memberikan informasi lengkap kepada penerima dan pemberi dana.
Tujuannya, memastikan semua pihak memahami dan menyetujui skema pembayaran angsuran dengan jumlah besar di awal (front-loaded installments/tadpole).
Ketiga, kualitas pendanaan tingkat wanprestasi (TWP90) harus kurang dari 5 persen.
OJK juga telah menerapkan langkah mitigasi dengan menetapkan batas maksimum manfaat ekonomi. Penyelenggara pinjol juga diwajibkan melakukan penilaian kelayakan kredit yang memadai.
penilaian ini mencakup kemampuan pembayaran (repayment capacity), rasio utang terhadap pendapatan (debt to income ratio), dan eksposur pendanaan penerima dana di penyelenggara lain.
“Pengaturan tersebut diharapkan dapat mendorong praktik usaha pindar yang lebih sehat, berkelanjutan, serta sejalan dengan prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen,” ujar Agusman.
Pola yang sering muncul dalam skema tadpole adalah cicilan awal mencapai 70 persen dari total pinjaman. Angsuran berikutnya kemudian turun signifikan.
Dalam beberapa kasus, pembayaran awal dijadwalkan tidak tetap dan berdekatan, sehingga peminjam harus menyiapkan dana dengan sangat cermat.
Bagi peminjam jangka pendek yang membutuhkan dana mendesak, cicilan awal yang besar dapat menjadi tekanan. Hal ini memaksa penyesuaian keuangan yang lebih berat dari perkiraan dan meningkatkan risiko gagal bayar di cicilan berikutnya.







