Tutup
Regulasi

TINS: Penertiban Tambang Ilegal Dongkrak Prospek Cerah di 2026

175
×

TINS: Penertiban Tambang Ilegal Dongkrak Prospek Cerah di 2026

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan kinerja yang menjanjikan di kuartal III 2025, dengan lonjakan laba bersih dua kali lipat dibandingkan semester sebelumnya. Meski demikian, kinerja operasional perusahaan masih menghadapi tantangan.

Laba bersih TINS mencapai Rp 602 miliar pada kuartal III-2025, naik signifikan dari Rp 300 miliar pada semester I-2025.

Kinerja solid ini didorong oleh basis pembanding yang rendah pada semester I 2025 akibat terhentinya ekspor dan upaya pemerintah dalam menertibkan penambangan timah ilegal di Bangka Belitung.

Selain itu, perseroan berhasil menurunkan *cash cost* yang sebelumnya mencapai US$ 20.000 per ton pada semester I 2025, sehingga meningkatkan margin kinerja.

Namun, pendapatan TINS tercatat menyusut 20% *year-on-year* (yoy) menjadi Rp 6,61 triliun dari sebelumnya Rp 8,25 triliun.

Produksi bijih timah TINS juga merosot 20% yoy menjadi 12.197 ton Sn, sementara produksi logam timah terkoreksi 25% yoy menjadi 10.855 metrik ton. Penjualan logam timah juga berkurang 30% yoy menjadi 9.469 metrik ton.

Manajemen TINS menargetkan produksi timah sekitar 30.000 metrik ton pada 2026, naik 40% dibandingkan target 2025 sebesar 21,5 ribu ton.

Target ini dinilai realistis jika pemerintah berhasil memberantas aktivitas tambang ilegal di Bangka Belitung.

Langkah tegas pemerintah terhadap penambangan timah ilegal, dengan menutup sekitar 1.000 lokasi tambang ilegal di Bangka Belitung pada Oktober 2025, diharapkan menjadi titik balik penting bagi TINS.

Operasi ilegal selama bertahun-tahun telah mengalihkan sebagian besar bijih timah, hingga 80% dari TINS, sehingga membatasi kemampuan perusahaan memenuhi target produksi.

Bank-bank investasi global memproyeksikan harga timah akan menguat menuju US$ 40.000 per ton hingga 2026, didorong oleh pemulihan permintaan dan keterbatasan pasokan di Indonesia dan Myanmar.

Permintaan kuat dari sektor energi surya, pusat data, dan elektronik menjadikan timah sebagai salah satu logam dasar dengan kinerja terbaik.

Analis melihat TINS sebagai pihak yang paling diuntungkan dari prospek harga timah yang positif ini.

Dengan prospek tersebut, sejumlah analis merekomendasikan investor untuk membeli (BUY) saham TINS dengan target harga bervariasi, mulai dari Rp 4.200 hingga Rp 5.000 per saham.