Jakarta – Pasar kripto mengalami transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Masuknya investor institusional dan peluncuran ETF kripto menjadi pendorong utama perubahan ini.
Perubahan strategi perusahaan-perusahaan besar juga turut mengubah struktur pasar secara essential.
Investor ritel kini perlu menyadari dinamika pasar yang baru ini. Kondisi makroekonomi global juga memengaruhi daya tarik Bitcoin.
Kenaikan harga emas, fluktuasi pasar saham, dan kebutuhan akan aset lindung nilai membuat Bitcoin semakin menarik. Namun, volatilitas tetap menjadi tantangan utama.
Menjelang 2026, apakah Bitcoin masih layak dibeli, dijual, atau ditahan?
Siklus empat tahunan Bitcoin atau halving kini tak lagi menjadi penggerak utama harga. Analis VanEck dan 21Shares menilai halving lebih penting secara simbolis.
Emisi tahunan Bitcoin saat ini di bawah satu persen, lebih rendah dari inflasi emas. Dampak halving di masa depan diperkirakan akan semakin kecil.
Pembeli Bitcoin pun telah berubah. ETF, perusahaan besar, dan pemerintah kini menyerap lebih banyak koin daripada yang ditambang. Ini menandakan modal yang lebih stabil dan tahan lama.
Volatilitas Bitcoin juga mulai menurun. Koreksi maksimum 30 persen lebih rendah dibandingkan 60 persen pada siklus awal. Bitcoin mulai berperilaku seperti aset keuangan yang matang.
Investor besar semakin aktif menempatkan dana di bitcoin. MicroStrategy, misalnya, memiliki 671.268 koin senilai sekitar US$58,9 miliar atau setara Rp983 triliun.
Sebelas perusahaan lain telah menempatkan minimal US$1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun ke dalam Bitcoin, termasuk Tesla dan Trump media & Technology Group.
ETF Bitcoin juga mulai menguasai sekitar tujuh persen dari seluruh koin yang beredar. Angka ini diperkirakan meningkat seiring layanan investasi besar seperti Morgan Stanley memberikan rekomendasi dana Bitcoin.
bitcoin bahkan berpotensi menjadi lindung nilai terhadap gejolak ekonomi, mirip emas yang naik 71 persen tahun ini, dibandingkan kenaikan 16 persen indeks S&P 500.
Namun, Bitcoin juga menghadapi risiko. Aktivitas institusional menyebabkan kepemilikan semakin terpusat, sementara pertumbuhan jaringan organik stagnan.
Penambang juga mulai mengalihkan listrik ke proyek AI, mengurangi sumber daya untuk menambang.







