Jakarta – Warren Buffett, sang legenda investasi, segera mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO Berkshire Hathaway. Jelang momen bersejarah ini, indikator pasar saham andalan Buffett mengirimkan sinyal yang perlu diwaspadai para investor.
Pria berusia 95 tahun ini dijadwalkan menyerahkan tampuk kepemimpinan Berkshire Hathaway kepada Greg Abel pada 31 Desember 2025. Serah terima ini menandai akhir era kepemimpinan Buffett, salah satu investor paling berpengaruh di dunia.
Sepanjang kariernya, Buffett dikenal dengan langkah-langkah strategis, mulai dari akuisisi perusahaan kereta api Burlington Northern hingga kemitraan erat dengan pendiri Microsoft, Bill Gates. Ia juga rutin membagikan pandangannya melalui surat tahunan kepada para pemegang saham.
Salah satu indikator pasar yang erat kaitannya dengan Buffett adalah Buffett Indicator. Indikator ini membandingkan total kapitalisasi pasar saham Amerika Serikat (Indeks Wilshire 5000) dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan AS.
Buffett Indicator menjadi populer setelah Buffett menulis artikel di Fortune Magazine pada 2001 bersama jurnalis Carol Loomis.
“Rasio ini memiliki keterbatasan tertentu dalam menjelaskan semua hal yang perlu Anda ketahui,” tulis Buffett dalam artikel tersebut.
“Meski demikian, rasio ini kemungkinan merupakan ukuran tunggal terbaik untuk melihat posisi valuasi pada suatu waktu tertentu,” lanjutnya.
Saat ini, Buffett Indicator mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, didorong oleh lonjakan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).
Kondisi ini mengindikasikan valuasi saham yang sangat tinggi dan membuka peluang terjadinya koreksi pasar pada awal 2026.
Menurut data GuruFocus, Buffett Indicator berada di angka 221,4 persen, melonjak sekitar 22 persen sejak 30 April. Level ini merupakan yang tertinggi sejak data GuruFocus mulai dicatat pada tahun 1970.
Sementara itu, Indeks S&P 500 telah melonjak hampir 17 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan ini didorong oleh optimisme terhadap potensi laba perusahaan berbasis AI serta revisi naik proyeksi keuntungan oleh para analis.
Buffett sendiri tetap menginvestasikan dananya pada perusahaan-perusahaan yang terkait dengan masa depan teknologi, termasuk Apple, Amazon, dan Alphabet.
Howard Buffett disebut-sebut akan menggantikan ayahnya sebagai chairman Berkshire Hathaway.
Sepanjang hidupnya, Buffett dikenal sebagai penganut setia investasi nilai (value investing), pendekatan yang menekankan pentingnya membeli aset dengan harga yang wajar. Prinsip ini dipelajarinya dari mentornya, Benjamin Graham.
“Budaya di Berkshire sebenarnya cukup sederhana. Anda melakukan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan, dan Anda melakukannya pada saat yang Anda janjikan. Anda bersikap jujur. Anda membuat kesalahan dan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut,” kata Howard Buffett, dikutip dari Yahoo Finance.
Ke mana pun arah pasar saham bergerak, pengaruh Warren Buffett dalam dunia investasi tidak terbantahkan.
“Saya pikir Warren Buffett adalah yang terbaik sepanjang masa dalam dunia kapitalisme,” ujar CEO Brooks Running, Dan Sheridan, dalam sebuah wawancara pada Oktober lalu.
“Ada begitu banyak arahan dan kebijaksanaan yang kami peroleh dari Warren selama bertahun-tahun,” lanjutnya.
Berkshire Hathaway mengakuisisi Brooks pada tahun 2006. Setiap tahun, dalam pertemuan tahunan pemegang saham Berkshire, Brooks merilis sepatu edisi khusus bergambar wajah Buffett dan mitra bisnis lamanya, Charlie Munger.







