Jakarta – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyoroti performa indeks LQ45 yang dinilai masih menyimpan potensi penguatan di masa depan. Kinerja indeks yang berisikan saham-saham berkapitalisasi besar ini jauh tertinggal dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2025.
Menurut Mahendra, indeks LQ45 hanya mampu tumbuh 2,41% sepanjang tahun lalu. Angka ini kontras dengan laju IHSG yang melesat hingga 22,13%.
“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41%, jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra saat membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2026, Jumat (2/01/2026).
Pada hari perdana perdagangan tahun 2026, IHSG dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,39% ke level 8.685.
Sebagai informasi, IHSG menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan penguatan tipis 0,031% ke level 8.646,94. Secara tahun berjalan, IHSG menguat 22,13%.
Lebih lanjut, Mahendra mengungkapkan kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 72% hingga akhir 2025. Angka ini meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di level 56%.
Meski mengalami lonjakan, Mahendra menilai kontribusi pasar saham domestik masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya.
Dia mencontohkan, kontribusi pasar saham di India telah mencapai 140% terhadap PDB, disusul Thailand sebesar 101% dan Malaysia 97%.
“Artinya potensi pengembangan (pasar saham) masih lebih besar lagi,” jelas Mahendra.







