Tutup
EkonomiPerbankan

Beras Surplus, Bapanas Klaim Indonesia Swasembada Pangan

163
×

Beras Surplus, Bapanas Klaim Indonesia Swasembada Pangan

Sebarkan artikel ini
bapanas-sebut-ri-sudah-swasembada-beras,-bulog-minta-disuntik-apbn
Bapanas Sebut RI Sudah Swasembada Beras, Bulog Minta Disuntik APBN

Jakarta – Kabar gembira datang dari sektor pangan. Indonesia diklaim telah mencapai swasembada beras.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan proyeksi stok awal beras tahun 2026 mencapai 12,529 juta ton.

Angka ini melonjak 203 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan capaian ini adalah bukti kemandirian pangan berkat produksi petani dalam negeri.

“Pemerintah optimistis ketersediaan beras ini sangat kuat. Indonesia telah mencapai swasembada beras,” ujarnya.

Menurut Ketut, stok beras yang dibawa dari tahun 2025 ke 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini menjadi salah satu indikator tercapainya swasembada beras.

Bapanas memproyeksikan Neraca Pangan Nasional 2026 berdasarkan data dari berbagai kementerian dan lembaga terkait.

Hasilnya, stok beras di awal tahun 2026 dinilai sangat tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Terlebih sumber stok beras sepanjang 2025 tidak ada yang berasal dari luar negeri,” imbuh Ketut.

stok awal tahun 2026 sebesar 12,529 juta ton termasuk cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebanyak 3,248 juta ton.

Sisanya tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta sektor horeka (hotel, restoran, katering).

Peningkatan stok beras ini sangat signifikan dalam dua tahun terakhir.

Dibandingkan stok awal tahun 2024 yang hanya 4,134 juta ton, terjadi kenaikan sebesar 203,05 persen.

Sementara itu, dibandingkan stok awal tahun 2025 yang sebesar 8,402 juta ton, terjadi peningkatan sebesar 49,12 persen.

Ketut menegaskan kondisi stok beras nasional di awal tahun 2026 sangat aman berkat kerja keras petani dan dukungan dari Kementerian Pertanian serta pihak terkait lainnya.

“sesuai arahan Bapak Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman,Indonesia tidak perlu impor beras konsumsi di tahun 2026. Ini melanjutkan komitmen pemerintah dalam mendukung petani Indonesia karena tahun 2025 juga tidak ada impor,” tegasnya.

Keputusan untuk tidak melakukan impor beras umum dan bahan baku industri diambil saat pemerintah menetapkan Neraca Komoditas Tahun 2026. Kebijakan serupa juga diterapkan pada tahun 2025.

Pemerintah juga mendorong pelaku usaha nasional untuk mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal berupa beras pecah dan beras ketan pecah.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga optimistis dengan ketersediaan beras nasional.Ia bahkan menyebut stok beras mencukupi hingga Ramadan dan Lebaran 2026.

“Inilah stok tertinggi di akhir tahun selama merdeka. (Jadi) bukan aman, ada sangatnya, (stok kita) sangat aman.Sekarang tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus. Jadi tidak ada masalah sampai Ramadhan. Tidak ada masalah. Semua aman,” kata Amran.

Dengan stok beras di awal tahun 2026 sebesar 12,529 juta ton, kebutuhan konsumsi beras nasional selama hampir 5 bulan dapat terpenuhi. Asumsi kebutuhan konsumsi beras bulanan secara nasional adalah 2,591 juta ton.

Proyeksi produksi beras di tahun 2026 mencapai 34,7 juta ton. Dengan demikian,stok akhir tahun 2026 beras secara nasional diperkirakan mencapai 16,194 juta ton.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani berharap dukungan Anggaran pendapatan dan Belanja negara (APBN) untuk pengadaan empat juta ton beras pada 2026.

Hal ini bertujuan agar penyerapan gabah petani optimal dengan pembiayaan yang efisien.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Rizal mengatakan pihaknya sedang menyiapkan anggaran dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membahas skema pendanaan.

“Anggaran sedang kita siapkan,kami koordinasikan dalam waktu dekat ini dengan Kementerian Keuangan. Kita akan rapat secepatnya khususnya untuk tugas penyerapan yang empat juta ton beras ditambah satu juta ton jagung,” kata Rizal.

bulog menargetkan penyerapan empat juta ton setara beras dan satu juta ton jagung pada tahun 2026.

Rizal menilai,pembiayaan melalui perbankan himbara berpotensi menambah beban bunga.

Oleh karena itu, dukungan APBN atau alternatif pendanaan berbiaya rendah dinilai penting untuk menjaga efisiensi pengadaan pangan nasional.

“dan harapan kami kita dapat dukungan dana APBN kalau perlu sehingga tidak ada bunga-bunga lagi. Kalau harus pinjam di bank-bank Himbara kan bunganya agak tinggi,” ucapnya.

Opsi dukungan lain yang dipertimbangkan adalah dana Operator Investasi Pemerintah (OIP) berbunga rendah agar likuiditas terjaga dan serapan beras serta jagung petani tidak terhambat saat panen raya.

“Mudah-mudahan kita dapat APBN ataupun dapat dana bantuan OIP yang bunganya hanya dua persen,” tutur Rizal.

Dengan dukungan anggaran yang memadai,Bulog optimistis pengadaan berjalan lancar,harga pembelian terjaga,petani terlindungi,dan cadangan pangan nasional semakin kuat menyongsong 2026.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan target pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) empat juta ton pada tahun 2026 bertujuan untuk memperkuat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga bantuan pangan.

Keputusan menaikkan CBP dari tiga juta menjadi empat juta ton bertujuan agar pemerintah lebih mudah melakukan intervensi pasar dalam rangka menjaga stabilitas pasokan serta harga beras bagi masyarakat melalui SPHP dan menyalurkan bantuan pangan nasional secara cepat dan tepat sasaran.