Jakarta – Nilai tukar rupiah tertekan dan ditutup melemah 0,23% menjadi Rp 16.725 per dolar AS pada Jumat (2/1/2026). Namun, para analis memperkirakan mata uang Garuda ini berpeluang bangkit (rebound) pada perdagangan Senin (5/1/2026).
Peluang rebound ini dipicu oleh potensi pelemahan dolar AS yang disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan pergerakan rupiah pada awal pekan akan dipengaruhi oleh data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia. Data ini diperkirakan akan memberikan sinyal yang beragam bagi pasar.
Sentimen geopolitik terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden AS Donald Trump juga akan memberikan dampak, meskipun diperkirakan tidak terlalu besar.
“Dampaknya ke rupiah justru bisa positif karena proses selesai dengan cepat tanpa eskalasi lebih besar. Dolar AS justru bisa lebih dilepas investor oleh kekhawatiran aksi AS berikutnya,” ujar Lukman.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti faktor lain yang turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Ia menyebut serangan udara Saudi di Yaman dan deklarasi Iran tentang perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Eropa, dan Israel sebagai sentimen negatif.
“Kondisi ini telah meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan yang lebih luas, dan Trump memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut jika Iran melanjutkan pembangunan kembali program nuklirnya,” kata Ibrahim.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Senin (5/1/2026) akan bergerak di kisaran Rp 16.720 – Rp 16.750 per dolar AS.
Lukman memiliki perkiraan yang sedikit berbeda. Ia memprediksi rupiah akan bergerak pada rentang Rp 16.650 – Rp 16.800 per dolar AS.
Pelemahan rupiah pada penutupan pekan lalu dipicu oleh kenaikan indeks dolar AS (DXY). Selain itu, fundamental ekonomi Indonesia juga masih menjadi faktor penekan.
“Rupiah memang masih tertekan oleh fundamental yang mendasari seperti prospek pemangkasan suku bunga BI dan kekhawatiran defisit fiskal. Data manufaktur pagi ini yang lebih lemah dari perkiraan juga ikut menekan rupiah,” jelas Lukman.







