Tutup
Regulasi

Dow Jones Cetak Rekor: Saham Energi Melesat Usai Serangan di Venezuela

158
×

Dow Jones Cetak Rekor: Saham Energi Melesat Usai Serangan di Venezuela

Sebarkan artikel ini

New York – Bursa saham Wall Street mencetak rekor baru pada penutupan perdagangan Senin (5/1/2026), didorong oleh lonjakan saham sektor keuangan dan energi. Aksi militer Amerika Serikat di Venezuela yang menargetkan Presiden Nicolas Maduro menjadi katalisator utama kenaikan saham energi.

Indeks Dow Jones Industrial Average melambung ke rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,64% ke level 6.902,05, dan indeks Nasdaq menguat 0,69% ke level 23.395,82. Dow Jones sendiri melonjak 1,23% ke level 48.977,18.

Volume perdagangan tercatat tinggi, mencapai 19,1 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 15,9 miliar saham.

Investor optimistis langkah AS di Venezuela akan membuka akses bagi perusahaan-perusahaan Amerika ke cadangan minyak terbesar di dunia. Pemerintah Presiden Donald Trump dikabarkan akan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak AS untuk membahas peningkatan produksi dari Venezuela.

Sektor energi S&P 500 meroket 2,7%, mencapai level tertinggi sejak Maret 2025. Saham-saham unggulan seperti Exxon Mobil dan Chevron turut melonjak.

Selain sektor energi, produsen senjata juga mengalami kenaikan setelah aksi militer AS. Saham Lockheed Martin dan General Dynamics meningkat, mendorong indeks kedirgantaraan dan pertahanan S&P 500 mencapai rekor tertinggi.

“Saham-saham energi benar-benar diuntungkan dari ekspektasi bahwa Presiden Trump bermaksud mengirim mereka untuk melakukan lebih banyak investasi di Venezuela,” ujar Rob Haworth, ahli strategi investasi senior di U.S. Bank Wealth Management di Seattle.

Di sisi lain, saham Tesla naik 3,1% setelah mengalami penurunan selama tujuh sesi berturut-turut. Namun, saham Nvidia turun 0,4% dan Apple merosot 1,4%.

Sektor keuangan S&P 500 juga mencatat kenaikan signifikan, melonjak 2,2%. Investor menantikan laporan triwulanan yang diperkirakan menunjukkan peningkatan pendapatan perusahaan keuangan sebesar 6,7% dari tahun ke tahun. Saham Goldman Sachs dan JPMorgan Chase naik lebih dari 3% dan mencetak rekor tertinggi.

“Suasana pasar cenderung mendukung saham keuangan dalam beberapa hari terakhir,” kata Steve Sosnick, kepala analis pasar di Interactive Brokers.

Wall Street mencatatkan kinerja yang solid pada tahun 2025, dengan kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut. Namun, data terbaru menunjukkan sektor manufaktur AS mengalami kontraksi lebih besar dari perkiraan pada bulan Desember, memperpanjang penurunan selama 10 bulan.

Fokus pasar kini tertuju pada data penggajian non-pertanian bulanan yang akan dirilis pada hari Jumat, yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve pada tahun 2026.

Pasar memperkirakan penurunan suku bunga sekitar 60 basis poin tahun ini.

Saham-saham terkait mata uang kripto juga mengalami kenaikan seiring dengan melonjaknya harga Bitcoin. Saham Strategy dan Coinbase masing-masing naik hampir 5% dan 7,8%. Goldman Sachs bahkan meningkatkan peringkat Coinbase menjadi “beli” dari “netral”.