Regulasi

Inflasi Kuartal I: 3 Faktor Pemicu yang Wajib Diwaspadai

371
×

Inflasi Kuartal I: 3 Faktor Pemicu yang Wajib Diwaspadai

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan inflasi Indonesia pada kuartal pertama 2026 akan melampaui 3 persen. Prediksi ini didasarkan pada efek pembanding yang rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Josua menjelaskan, inflasi pada kuartal pertama 2025 relatif rendah. Januari 2025 mencatat inflasi 0,76 persen, bahkan Februari 2025 mengalami deflasi 0,09 persen, sebelum kembali inflasi 1,03 persen di Maret 2025.

Faktor utama yang mendorong potensi kenaikan inflasi tahun ini adalah tidak adanya stimulus ekonomi seperti diskon tarif listrik yang diterapkan pada Januari-Februari 2025.

Selain itu, Josua menyoroti tiga faktor utama yang akan memengaruhi laju inflasi tahun ini.

Pertama, masalah pangan akibat cuaca ekstrem, banjir, dan gangguan distribusi dapat memicu kenaikan harga pangan segar, terutama saat permintaan musiman tinggi.

Kedua, pergerakan nilai tukar rupiah dan harga komoditas global. Ketidakpastian global diperkirakan akan menjaga harga emas tetap tinggi, yang dapat mendorong inflasi melalui kenaikan harga emas domestik. Pergerakan harga energi juga perlu dipantau, meskipun dampaknya diperkirakan terbatas.

Ketiga, kebijakan dalam negeri. Kebijakan belanja pemerintah yang longgar dan suku bunga yang mendukung pertumbuhan dapat memperkuat permintaan, termasuk permintaan pangan. Hal ini berpotensi mendorong inflasi jika pasokan tidak memadai.

Meskipun demikian, Josua memperkirakan inflasi akan melandai di level 2,72 persen pada akhir tahun 2026. Secara tahunan, inflasi diperkirakan berada di atas 2,5 persen, namun masih berpeluang bertahan di bawah 3 persen dan menurun setelah tekanan musiman mereda.

Untuk mengendalikan inflasi, Josua menyarankan pemerintah untuk fokus pada penguatan pasokan dan kelancaran distribusi pangan, selain menahan permintaan.

Langkah-langkah yang diusulkan termasuk memastikan stok dan penyaluran antarwilayah berjalan cepat saat cuaca ekstrem, menekan biaya logistik saat bencana, memperkuat operasi stabilisasi harga di daerah yang mengalami lonjakan inflasi, serta memperbaiki pola pengadaan pangan program pemerintah untuk mencegah kelangkaan pasokan.

Josua juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gangguan cuaca dan distribusi, terutama saat rupiah melemah, karena dapat menciptakan tekanan harga dan membuat inflasi bergejolak.

Sebagai informasi tambahan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi akan tetap berada di kisaran 1,5–3,5 persen pada 2026 dan 2027.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Jakarta.Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona hijau pada awal Juni 2026. Investor perlu mencermati sejumlah saham berikut yang akan cum dividen mulai hari ini, Rabu 3 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa 2 Juni 2026 ditutup di level 6.195,43 naik 1,11% atau 68,05 poin secara harian. Kenaikan ini merupakan awal yang positif karena pada Mei 2026, IHSG tertekan hingga turun tajam,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan pada penghujung Mei. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG menguat 1,11% atau naik 67,85 poin ke level 6.195,42. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun RTI, pergerakan IHSG sepanjang hari berada di zona hijau. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 189 miliar atau setara 62,6% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini telah disepakati perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Selasa (2/6/2026). Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham yaitu sebanyak 2,7 miliar saham, sehingga setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (2/6/026) setelah mencetak serangkaian rekor tertinggi baru dalam beberapa sesi terakhir. Meski demikian, optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi penopang sentimen pasar. Baca Juga: Wall Street Terus Catat Rekor, Investasi di Pasar Saham AS Bisa Jadi Opsi Alternatif Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones…