Jakarta – Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan inflasi Indonesia pada kuartal pertama 2026 akan melampaui 3 persen. Prediksi ini didasarkan pada efek pembanding yang rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Josua menjelaskan, inflasi pada kuartal pertama 2025 relatif rendah. Januari 2025 mencatat inflasi 0,76 persen, bahkan Februari 2025 mengalami deflasi 0,09 persen, sebelum kembali inflasi 1,03 persen di Maret 2025.
Faktor utama yang mendorong potensi kenaikan inflasi tahun ini adalah tidak adanya stimulus ekonomi seperti diskon tarif listrik yang diterapkan pada Januari-Februari 2025.
Selain itu, Josua menyoroti tiga faktor utama yang akan memengaruhi laju inflasi tahun ini.
Pertama, masalah pangan akibat cuaca ekstrem, banjir, dan gangguan distribusi dapat memicu kenaikan harga pangan segar, terutama saat permintaan musiman tinggi.
Kedua, pergerakan nilai tukar rupiah dan harga komoditas global. Ketidakpastian global diperkirakan akan menjaga harga emas tetap tinggi, yang dapat mendorong inflasi melalui kenaikan harga emas domestik. Pergerakan harga energi juga perlu dipantau, meskipun dampaknya diperkirakan terbatas.
Ketiga, kebijakan dalam negeri. Kebijakan belanja pemerintah yang longgar dan suku bunga yang mendukung pertumbuhan dapat memperkuat permintaan, termasuk permintaan pangan. Hal ini berpotensi mendorong inflasi jika pasokan tidak memadai.
Meskipun demikian, Josua memperkirakan inflasi akan melandai di level 2,72 persen pada akhir tahun 2026. Secara tahunan, inflasi diperkirakan berada di atas 2,5 persen, namun masih berpeluang bertahan di bawah 3 persen dan menurun setelah tekanan musiman mereda.
Untuk mengendalikan inflasi, Josua menyarankan pemerintah untuk fokus pada penguatan pasokan dan kelancaran distribusi pangan, selain menahan permintaan.
Langkah-langkah yang diusulkan termasuk memastikan stok dan penyaluran antarwilayah berjalan cepat saat cuaca ekstrem, menekan biaya logistik saat bencana, memperkuat operasi stabilisasi harga di daerah yang mengalami lonjakan inflasi, serta memperbaiki pola pengadaan pangan program pemerintah untuk mencegah kelangkaan pasokan.
Josua juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gangguan cuaca dan distribusi, terutama saat rupiah melemah, karena dapat menciptakan tekanan harga dan membuat inflasi bergejolak.
Sebagai informasi tambahan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi akan tetap berada di kisaran 1,5–3,5 persen pada 2026 dan 2027.







