Jakarta – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela dinilai belum berdampak signifikan bagi Indonesia. Baik di sektor keuangan maupun komoditas.
Namun, risiko geopolitik tetap membayangi.Eskalasi konflik berpotensi mengubah tatanan energi dan ekonomi global.
Peneliti Senior CSIS, Deni Friawan, mengungkapkan hal ini. Ia menyoroti potensi gangguan pasokan minyak dunia jika konflik meluas.
“Risiko utama terletak pada kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan lebih banyak negara produsen energi,” ujar Deni, Rabu (7/1/2026).
Deni juga menyoroti rivalitas AS dan China dalam konflik ini. Venezuela memiliki cadangan minyak dan emas besar yang penting bagi China.
“AS mencoba menguasai minyak itu, sehingga suplai ke China berkurang. Jadi balancing China,” jelas Deni.
AS juga berkepentingan mempertahankan dominasi dolar AS melalui petrodolar. Transaksi minyak dengan mata uang non-dolar dianggap ancaman.
“Untuk menghindari itu, AS ‘mencaplok’ si Venezuela ini supaya tetap dolarnya jadi (mata uang) utama selain dia securing minyak,” imbuhnya.
Dampak bagi Indonesia dinilai dua sisi. Gangguan pasokan minyak ke China dapat berdampak tidak langsung karena ketergantungan ekonomi.
Namun, ini juga membuka peluang ekspor komoditas indonesia jika China mencari sumber lain.
kenaikan harga minyak merugikan Indonesia sebagai net importer. Namun, harga komoditas lain seperti batu bara dan CPO juga berpotensi naik, menguntungkan Indonesia.







