Jakarta – Harga logam industri menunjukkan tren beragam di akhir pekan. Tembaga, nikel, dan timah mengalami koreksi, sementara aluminium justru terus menguat di tengah pasokan global yang ketat.
Mengutip data *Bloomberg*, harga tembaga untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) pada 8 Januari 2026, turun 1,28% menjadi US$ 12.720 per ton. Timah juga melemah 2,28% ke level US$ 43.750 per ton, dan nikel turun 3,31% menjadi US$ 17.155 per ton. Di sisi lain, harga aluminium naik tipis 0,18% menjadi US$ 3.091 per ton.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa koreksi harga tembaga dan timah lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah reli harga sebelumnya.
“Ketiga logam tersebut masih didukung oleh pasokan yang ketat. Tembaga dan timah turun hanya karena aksi *profit taking*,” ujarnya.
Sentimen utama yang menopang harga logam industri sepanjang tahun ini adalah permintaan besar dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik (EV).
Pembangunan pusat data dan pembangkit listrik meningkatkan permintaan logam konduktif. Selain itu, kebijakan pengendalian *overcapacity* dan produksi di China juga menjadi faktor penentu harga.
Pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga The Fed, tarif perdagangan, dan tensi geopolitik turut mempengaruhi volatilitas pasar.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai bahwa pelemahan tembaga dan timah juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap sektor konstruksi China. Sementara itu, aluminium menguat berkat pembatasan kapasitas produksi dan mahalnya biaya energi global.
“Aluminium berhasil menguat karena pengetatan pasokan global, terutama setelah China menegaskan pembatasan kapasitas produksi,” jelasnya.
Kedua analis memiliki pandangan positif terhadap prospek logam industri. Permintaan jangka panjang dinilai tetap kuat, terutama dari transisi energi dan pengembangan infrastruktur teknologi. Namun, kenaikan harga yang agresif belakangan ini membuat ruang kenaikan jangka pendek relatif terbatas.
Untuk tahun 2026, Lukman memproyeksikan harga tembaga stabil di sekitar US$ 13.000 per ton, timah di kisaran US$ 42.000–US$ 44.000 per ton, dan aluminium di rentang US$ 3.000–US$ 3.200 per ton.
Sutopo memperkirakan tembaga berpotensi menguji area US$ 13.000–US$ 14.000 per ton, timah bertahan di level tinggi sekitar US$ 45.000 per ton, dan aluminium berpeluang menembus US$ 3.500 per ton jika hambatan pasokan berlanjut.
Dengan kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap berhati-hati. Harga yang sudah tinggi membuat logam industri rentan terhadap koreksi, meskipun tren jangka panjang masih konstruktif.
Lukman menyarankan investor untuk menunggu koreksi sekitar 15%–20% sebelum kembali masuk ke pasar. Sementara itu, Sutopo menekankan pentingnya diversifikasi dan pemantauan kebijakan moneter global serta data ekonomi China sebagai indikator utama permintaan.







