Regulasi

Pertamina Bahas Insentif Merger Anak Usaha dengan Purbaya

375
×

Pertamina Bahas Insentif Merger Anak Usaha dengan Purbaya

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, bertemu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hari ini untuk membahas insentif merger tiga anak usaha BUMN migas. Pertemuan berlangsung di kantor Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Pertamina berencana menggabungkan PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Simon menegaskan rencana integrasi bisnis hilir ini bertujuan untuk mengefisienkan operasional perusahaan.

“Rencana integrasi bisnis hilir kami integrasi. Jadi, kami akan menggabungkan Kilang Pertamina Indonesia (internasional), Pertamina Patra Niaga, dan Pertamina International Shipping,” jelas Simon, Jumat (9 Januari 2026).

Salah satu topik utama dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan adalah pembahasan insentif untuk mendukung proses merger. Meskipun demikian, Simon belum merinci bentuk insentif yang diharapkan. “Termasuk (insentif),” ujarnya singkat.

Sebelumnya, Pertamina menargetkan merger rampung pada 1 Januari 2026, namun target ini belum tercapai.

Pada pertengahan November 2025, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengungkapkan bahwa Danantara Indonesia mendampingi proses integrasi bisnis hilir Pertamina, meliputi sektor *commercial and trading*, *refinery* dan kilang, serta logistik.

Langkah penyederhanaan operasional bisnis ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi dan mengurangi kompleksitas operasional. Tujuannya agar Pertamina fokus pada bisnis inti: minyak dan gas, pengolahan hingga distribusi energi, serta energi baru terbarukan.

Selain itu, merger diharapkan meningkatkan daya saing perusahaan dan efisiensi pengambilan keputusan. Agung Wicaksono menyatakan, “Tentunya ditargetkan bahwa nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham atau *unlock value* dapat dilakukan,” pada 19 November 2025.

Simon sebelumnya telah mengumumkan rencana merger ini dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR pada 11 September 2025. Penurunan laba di masing-masing anak usaha akibat kondisi global menjadi salah satu pendorong merger.

Peningkatan produksi kilang seiring pembangunan kilang minyak baru tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan, sehingga membebani perusahaan.

“Kilang ini marginnya semakin kecil. Dengan marginnya semakin kecil, tentu secara keseluruhan, secara konsolidasi, akan berpengaruh kurang baik ke *bottom line* perusahaan,” pungkas Simon.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan pada penghujung Mei. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG menguat 1,11% atau naik 67,85 poin ke level 6.195,42. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun RTI, pergerakan IHSG sepanjang hari berada di zona hijau. Baca Juga: SumbarSumbarbisnis.com Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 189 miliar atau setara 62,6% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini telah disepakati perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Selasa (2/6/2026). Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham yaitu sebanyak 2,7 miliar saham, sehingga setiap saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (2/6/026) setelah mencetak serangkaian rekor tertinggi baru dalam beberapa sesi terakhir. Meski demikian, optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi penopang sentimen pasar. Baca Juga: Wall Street Terus Catat Rekor, Investasi di Pasar Saham AS Bisa Jadi Opsi Alternatif Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi korporasi akan lebih selektif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan, di pasar obligasi, kenaikan suku bunga kebijakan biasanya menekan harga obligasi lama dan mendorong yield naik. Bagi emiten, kondisi ini berarti biaya penerbitan baru menjadi lebih mahal. Emiten yang tidak memiliki…