Tutup
EkonomiInvestasiNews

Bitcoin Berjuang, Sentimen Global dan The Fed Menekan

127
×

Bitcoin Berjuang, Sentimen Global dan The Fed Menekan

Sebarkan artikel ini
bitcoin-ambruk-sentuh-level-us$86.000-jelang-keputusan-suku-bunga-the-fed
Bitcoin Ambruk Sentuh Level US$86.000 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Jakarta – Harga bitcoin tertekan menjelang pengumuman suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) pada 27-28 januari 2026.

Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat menyentuh level di bawah US$88.000.

Sentimen pasar global yang melemah menjadi pemicu utama penurunan harga Bitcoin.

Data CoinDesk menunjukkan Bitcoin sempat turun sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir pada perdagangan Minggu sore waktu AS.

Koreksi ini membuat Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$87.800 atau sekitar Rp 1,47 miliar (estimasi kurs Rp 16.820 per dolar AS).

Tak hanya Bitcoin, aset kripto utama lainnya juga ikut tertekan.

Ether merosot mendekati US$2.880, sementara Solana, XRP, dan Cardano masing-masing melemah antara 3 hingga 5 persen.

Pantauan di coinmarketcap pada Senin (26/1/2026) pukul 07.08 WIB menunjukkan harga Bitcoin berada di level US$86.831,79 atau sekitar rp 1,46 miliar.

Dalam sepekan terakhir, Bitcoin telah anjlok sebesar 6,58 persen.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif pasar kripto dalam sepekan terakhir.

Kondisi ini mencerminkan sentimen investor yang masih rapuh di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Penurunan harga aset kripto memicu likuidasi besar-besaran terhadap posisi bullish.

Data CoinGlass mencatat total likuidasi mencapai US$224 juta dalam 24 jam terakhir.

Sekitar US$68 juta berasal dari kontrak berjangka Bitcoin dan US$45 juta dari kontrak Ether.

Pelaku pasar menilai pergerakan sideways ini sebagai fase konsolidasi atau penyesuaian setelah volatilitas tinggi di awal Januari 2026.

Investor global juga tengah mewaspadai potensi intervensi terhadap yen.

Perdana menteri Jepang, Sanae Takaichi, sebelumnya memperingatkan adanya pergerakan pasar yang tidak normal setelah yen menguat tajam pada Jumat (23/1/2026).

Lonjakan tajam mata uang Jepang ini meningkatkan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar di kawasan Asia.

Dari sisi global,risiko penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) juga menekan aset berisiko,termasuk kripto.

Pemimpin Partai Demokrat di Senat AS, Chuck schumer, menyatakan akan memblokir paket belanja pemerintah kecuali pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dihapus.

Situasi ini dinilai berpotensi memperketat likuiditas jangka pendek dan membebani sentimen pasar.

data Polymarket menunjukkan pelaku pasar mematok peluang sebesar 76 persen terjadinya government shutdown di AS sebelum akhir bulan ini.