Tutup
NewsPendidikanTeknologi

AI Gerus Humaniora, Perusahaan Kini Incar Lulusan Vokasi

103
×

AI Gerus Humaniora, Perusahaan Kini Incar Lulusan Vokasi

Sebarkan artikel ini
bos-palantir-sebut-lulusan-vokasi-jadi-rebutan-di-era-ai-saat-tingkat-pengangguran-terus-naik
Bos Palantir Sebut Lulusan Vokasi Jadi Rebutan di Era AI saat Tingkat Pengangguran Terus Naik

jakarta – CEO Palantir Technologies, Alex Karp, melontarkan peringatan keras soal ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja. Ia menyebut AI berpotensi besar menggerus pekerjaan di bidang humaniora.

Karp bahkan memprediksi lulusan pendidikan vokasi akan menjadi incaran utama di era AI.

Pernyataan ini disampaikan Karp saat sesi talkshow di World Economic Forum, Davos, Swiss, rabu (28/1/2026).

Karp, yang merupakan lulusan Haverford College, Stanford Law School, dan Goethe University, mengaku sempat khawatir tentang prospek karirnya meski memiliki pendidikan tinggi.

“AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora,” tegas Karp.

Menurutnya, lulusan kampus elite dengan pengetahuan umum tanpa keterampilan teknis yang mumpuni akan kesulitan mencari pekerjaan.

“Kalau anda lulusan sekolah elite kalau tidak punya keterampilan lain, itu akan sulit dijual di pasar kerja,” ujarnya.

Meski demikian, pandangan Karp tidak sepenuhnya disetujui oleh eksekutif lain. COO BlackRock, Robert Goldstein, menyatakan perusahaannya justru merekrut lulusan dari jurusan yang tidak terkait dengan keuangan atau teknologi.

Managing Partner Global McKinsey, Bob Sternfels, juga mengungkapkan pihaknya kembali melirik lulusan liberal arts sebagai sumber kreativitas untuk solusi di luar pola linear AI.

Karp tetap mendorong pergeseran fokus ke pendidikan vokasi.Tahun lalu, Palantir meluncurkan Meritocracy fellowship, program magang berbayar bagi siswa sekolah menengah dengan peluang menjadi karyawan tetap.

Palantir juga mengkritik sistem pendidikan tinggi di AS yang dianggap mengindoktrinasi mahasiswa dan memiliki proses seleksi yang tidak transparan.

Karp menegaskan latar belakang pendidikan tidak relevan setelah seseorang bekerja di sebuah perusahaan.

“Jika Anda tidak kuliah, kuliah di kampus biasa, atau bahkan Harvard, Princeton, atau Yale, begitu masuk Palantir, Anda adalah orang Palantir. tidak ada yang peduli dengan latar belakang itu,” kata Karp saat paparan kinerja kuartal II-2025.

Ia menekankan pentingnya cara baru dalam mengukur bakat dan peran pemimpin perusahaan dalam menggali keunggulan unik setiap individu.