Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) semakin mengancam peluang kerja bagi pencari kerja muda. Studi terbaru menunjukkan, lulusan baru (fresh graduate) menjadi kelompok yang paling rentan kehilangan pekerjaan.
Penelitian Stanford University mengungkap, lapangan kerja untuk usia 22-25 tahun di bidang yang terdampak AI mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran,terutama bagi mereka yang menganggap posisi entry-level sebagai batu loncatan karier.
Laporan Tech Co menyebutkan, terjadi penurunan 13% tingkat pekerjaan untuk kandidat level pemula dalam tiga tahun terakhir. Perkembangan AI menjadi penyebab utama penurunan ini.
Kandidat level pemula di bidang pengembangan perangkat lunak dan layanan pelanggan paling merasakan dampaknya. Sementara pekerja senior atau di luar bidang yang terdampak AI tidak mengalami hal serupa.Peneliti menekankan pentingnya cara perusahaan menerapkan AI. Bisnis harus memahami bagaimana AI bisa membantu karyawan, bukan menggantikan mereka sepenuhnya.
Studi yang menganalisis data penggajian Automatic Data Processing Inc. ini menyimpulkan, lapangan kerja bagi pekerja muda di bidang yang terdampak AI turun 13% dalam tiga tahun terakhir.
Peneliti mengungkap, AI memiliki lebih banyak pengetahuan teoretis dibandingkan pengalaman praktis yang dimiliki kandidat level pemula.
Selain pengembangan perangkat lunak dan layanan pelanggan, peran di bidang akuntansi, pengembangan, dan administrasi juga mengalami penurunan.Sebaliknya,peran seperti teknisi perawat justru meningkat.
Sikap perusahaan terhadap implementasi AI menjadi faktor kunci. Perusahaan yang melihat AI sebagai pengganti pekerja manusia cenderung lebih sedikit merekrut.
CEO coinbase brian Armstrong mengakui telah memecat insinyur yang tidak mau menggunakan AI.
Peneliti menekankan, sikap yang memungkinkan pekerja memanfaatkan teknologi untuk membantu tugas harian, bukan menggantikan mereka, adalah jalan terbaik.







