Tutup
News

Atur Keuangan Ala Nicholas Saputra: Belanja Hanya 25 Persen, Sisanya untuk Investasi

242
×

Atur Keuangan Ala Nicholas Saputra: Belanja Hanya 25 Persen, Sisanya untuk Investasi

Sebarkan artikel ini
atur-keuangan-ala-nicholas-saputra:-belanja-hanya-25-persen,-sisanya-untuk-investasi
Atur Keuangan Ala Nicholas Saputra: Belanja Hanya 25 Persen, Sisanya untuk Investasi

Jakarta – Aktor Nicholas Saputra membagikan strategi pengelolaan keuangan pribadinya yang tergolong konservatif, dengan hanya membelanjakan sebagian kecil dari pendapatannya untuk konsumsi.

Dalam forum bertajuk “Architecture of Wealth” yang merupakan bagian dari Sharia Investment Week 2025 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicholas mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengalokasikan 20 hingga 25 persen dari penghasilannya untuk kebutuhan konsumsi. “Prinsipnya begini, saya spending hanya 20 sampai 25 persen dari income,” ujarnya.

Sisa dari penghasilannya, lanjutnya, dialokasikan untuk dana darurat, investasi, dan pendapatan pasif. “Sisanya masuk ke alokasi-alokasi untuk misalnya dana darurat, investasi, passive income, dan lain-lain.Dua puluh persen mungkin bahkan kurang,” imbuhnya.

Kebiasaan mengatur keuangan ini, menurut Nicholas, telah diterapkan sejak dirinya duduk di bangku kelas 2 SMA, saat ia mulai terjun ke dunia hiburan.Ia menuturkan bahwa almarhum ayahnya telah memperkenalkan konsep pengelolaan keuangan sejak dini. “Almarhum ayah saya sudah mengingatkan pentingnya mengelola keuangan sejak SMA,” ungkapnya.Ayahnya, menurut Nicholas, menyadari bahwa dirinya telah memasuki dunia kerja pada usia tersebut. “Ayah saya waktu itu menyadari saya sudah masuk dunia kerja. Waktu SMA kelas 2 saya diberi pengetahuan pengelolaan keuangan.Dari SMA saya sudah sedikit mengetahui cara mengelola (uang), untuk carinya disuruh sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nicholas mengingatkan pentingnya untuk tidak terburu-buru meningkatkan gaya hidup seiring dengan peningkatan penghasilan. Ia mewanti-wanti bahwa hal tersebut dapat menjadi jebakan. “Jangan pernah terburu-buru menaikkan kualitas hidup sendiri, karena kadang di situ itu jebakannya,” katanya. menurutnya, menurunkan kenyamanan gaya hidup yang sudah terbiasa adalah hal yang sulit. “Karena paling sulit itu nurunin kenyamanan gaya hidup. mental bisa kena, itu terutama,” tambahnya.

Nicholas menegaskan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak dan konservatif agar kestabilan finansial tetap terjaga. “Pastikan naik perlahan tapi pasti,” tuturnya. Ia menekankan perlunya perhatian terhadap pengelolaan keuangan yang bijak dan konservatif. “Perlu diperhatikan pengelolaan keuangan yang bijak dan konservatif,” pungkasnya pada Jumat (20/6/2025).