Tutup
Perbankan

Bahlil Beberkan Oleh-oleh Kunjungan Prabowo dari Rusia

221
×

Bahlil Beberkan Oleh-oleh Kunjungan Prabowo dari Rusia

Sebarkan artikel ini
bahlil-beberkan-oleh-oleh-kunjungan-prabowo-dari-rusia
Bahlil Beberkan Oleh-oleh Kunjungan Prabowo dari Rusia

Jakarta – Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan potensi kolaborasi dengan Rusia di sektor energi, termasuk pengelolaan sumur minyak yang sudah tua dan penyediaan energi untuk memenuhi kebutuhan domestik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bahlil lahadalia, mengungkapkan hal tersebut.

Menurut Bahlil, tawaran kerja sama ini diajukan langsung oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, kepada Presiden Prabowo Subianto. “Ya, kemarin kebetulan saya juga ikut dalam rombongan itu.Jadi presiden Putin menawarkan kepada pemerintah indonesia, kepada presiden Prabowo, bahwa Rusia kan salah satu negara yang mempunyai kemampuan dan punya pengalaman panjang dalam rangka mengelola sumur-sumur minyak,” ujarnya pada Selasa (24/6/2025).

Bahlil menjelaskan bahwa tawaran tersebut disampaikan Putin saat pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo di Istana Konstantinovsky, St. petersburg, pada Kamis (19/6/2025). Rusia, menurutnya, memiliki teknologi dan pengalaman yang diperlukan untuk merevitalisasi sumur-sumur minyak yang sudah tua. “Ada teknologinya, kemudian ada ideal well-nya yang sudah mereka lakukan juga,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah sedang merumuskan langkah-langkah teknis untuk menindaklanjuti tawaran tersebut. Kepala SKK Migas dan Direktur Utama Pertamina turut serta dalam kunjungan ke rusia untuk menjajaki kemungkinan kerja sama lebih lanjut. “Kemarin saya juga bawa kepala SKK Migas untuk kita melakukan komunikasi dengan beberapa BUMN Rusia untuk mereka bisa melakukan kerjasama. Saya juga bersama-sama dengan direktur Utama PT Pertamina,” kata Bahlil.

Setidaknya ada tiga bentuk kerja sama yang sedang dibahas, yaitu pengelolaan sumur minyak tua, potensi impor minyak mentah (crude) dari Rusia, dan penjajakan kerja sama di bidang gas, termasuk LPG. Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan LPG nasional mencapai 8 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mencapai 1,3 juta ton. “Sekarang kan kalau untuk LPG, kita memang 80% impor. Impor LPG kita, produksi kita di sini masih minim. Dari total kebutuhan kita 8 juta ton per tahun. Itu produksi kita hanya sekitar 1,3 juta. Jadi impor kita itu masih kurang lebih sekitar 7 juta ton per tahun. Ini bisa salah satu alternatifnya dari sana,” terangnya.

Menanggapi tawaran Indonesia, Bahlil memastikan bahwa Rusia memberikan respons yang sangat positif.Bahkan, sejumlah investor Rusia akan segera datang ke Indonesia untuk memulai penjajakan teknis. “Kemarin saya menerima juga beberapa investor Rusia.Saya mendampingi Pak Presiden Prabowo. Mereka datang, mereka menyampaikan minat mereka.Bahkan minggu ini di hari Kamis, Jumat, sudah ada tim dari rusia yang datang ke Indonesia untuk memulai,” ungkapnya.Bahlil menambahkan bahwa jaringan yang dimiliki Presiden Prabowo di dunia usaha, khususnya sektor energi, turut membuka peluang kerja sama strategis ini. “Pak Presiden Prabowo kan mempunyai jaringan pengusaha-pengusaha minyak yang cukup banyak lah di sana. Karena dulu kan Pak Presiden prabowo sebelum menjadi presiden kan juga adalah di dunia usaha. Dan salah satu jaringan di bidang energinya kan cukup baik,” pungkasnya.