Tutup
News

Bahlil Sepakati Kerja Sama, Indonesia Bakal Ekspor Listrik Hijau untuk Singapura

169
×

Bahlil Sepakati Kerja Sama, Indonesia Bakal Ekspor Listrik Hijau untuk Singapura

Sebarkan artikel ini
bahlil-sepakati-kerja-sama,-indonesia-bakal-ekspor-listrik-hijau-untuk-singapura
Bahlil Sepakati Kerja Sama, Indonesia Bakal Ekspor Listrik Hijau untuk Singapura

Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Singapura telah meresmikan kemitraan strategis melalui penandatanganan tiga nota kesepahaman (MoU) yang berpotensi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Kesepakatan ini, yang ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Tan See Leng, mencakup kolaborasi dalam perdagangan energi bersih, carbon capture and storage (CCS), serta pengembangan kawasan industri bersama di Kepulauan Riau (Kepri).

Menteri ESDM menyatakan bahwa investasi dari ketiga proyek ini diperkirakan melebihi 10 miliar dolar AS. Pernyataan ini disampaikan saat acara penandatanganan MoU di kantor kementerian ESDM, Jumat (13/6/2025).

Lebih lanjut, Menteri ESDM menjelaskan bahwa Singapura membutuhkan pasokan listrik berbasis energi hijau dengan kapasitas mencapai tiga gigawatt (GW). Namun,ia menekankan bahwa Indonesia dan Singapura akan melakukan kajian mendalam terkait potensi ekspor listrik ke Singapura. “Tidak semuanya kita diekspor,tapi sebagian kita akan untuk konsumsi dalam negeri untuk industri yang berorientasi pada hilirisasi,” ujarnya.

Kerja sama ini, menurut Menteri ESDM, akan mendorong pengembangan industri solar panel, meningkatkan pendapatan negara, serta menciptakan lapangan kerja baru. rincian lebih lanjut mengenai kerja sama ini akan diumumkan setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Singapura dalam waktu dekat. “ini kerja sama yang baik dan saling menguntungkan. Apalagi dunia sekarang mendorong untuk produk-produknya itu semua harus memakai energi yang bersih,” tambahnya.

Pembangunan kawasan industri bersama Singapura juga akan memanfaatkan energi bersih. Indonesia memiliki sumber daya bahan baku, teknologi CCS, dan pasokan listrik bersih yang dapat mendukung kawasan industri tersebut. “Kita berkolaborasi dengan teman-teman singapura yang memang punya market dan punya FDI yang besar,” ungkapnya.

Menteri ESDM juga membuka peluang bagi perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PLN untuk terlibat dalam kerja sama ini. “PLN bisa iya,bisa tidak.PLN ini kan perusahaan listrik negara yang tanggung jawabnya besar. Dia harus membangun 69 gigawatt sampai 2034. dia harus membangun jaringan 48 ribu meter sirkuit atau 8 ribu kilometer. Jadi kita lihat kemampuannya dulu.Kalau kemampuannya bagus,ya ok,kalau tidak,kita harus fokus dulu pada kebutuhan pelayanan publik,” jelasnya.

Dalam paparan MoU, kedua negara sepakat membentuk Satuan Tugas (Satgas) yang dipimpin oleh Menteri ESDM dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura. Satgas ini akan bertugas menyusun rencana aksi untuk pengembangan kawasan industri berkelanjutan.

“Potensi investasi 30 miliar dolar AS sampai 50 miliar dolar AS untuk investasi pembangkit panel surya dan 2,7 miliar dolar AS untuk manufaktur panel surya dan BESS,” demikian tertulis dalam paparan tersebut.

Kementerian ESDM juga memperkirakan potensi penambahan devisa per tahun sebesar empat miliar dolar AS sampai enam miliar dolar AS, serta potensi penambahan penerimaan negara per tahun sebesar 210 juta dolar AS sampai 600 juta dolar AS.

“418 ribu potensi penyerapan tenaga kerja dari manufaktur, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan panel surya dan BESS,” lanjut paparan tersebut. Selain itu, potensi dampak CCS lintas batas dengan singapura dalam jangka pendek mencakup pengembangan proyek S-hub (Shell, ExxonMobil, dan Pertamina) dengan pendapatan sekitar 200 juta dolar AS per tahun dan penciptaan lapangan kerja lokal lebih dari 1600 orang untuk konstruksi dan operasi.

“Jika segera direalisasikan,kerja sama CCS lintas batas Indonesia Singapura akan menjadi yang pertama di Asia Tenggara bahkan Asia timur.”