Tutup
News

Bank AS Agresif Borong Bitcoin, Ritel Melepas Aset

122
×

Bank AS Agresif Borong Bitcoin, Ritel Melepas Aset

Sebarkan artikel ini
bank-besar-as-kompak-serok-bitcoin-saat-investor-ritel-panik
Bank Besar AS Kompak Serok Bitcoin saat Investor Ritel Panik

jakarta – Bank-bank besar di Amerika Serikat (AS) terpantau agresif memborong Bitcoin. Aksi korporasi ini berbanding terbalik dengan investor ritel yang justru melepas aset kripto mereka.

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, menyoroti fenomena ini melalui platform X. Ia menyebut bank-bank besar AS memanfaatkan momen ini untuk menambah kepemilikan Bitcoin saat investor ritel panik menjual.

“Ketika Anda panik menjual, bank-bank AS justru sibuk menambah kepemilikan Bitcoin,” tulis Zhao, dikutip dari TipRanks, Senin (19/1/2026).

Wells Fargo, dalam laporan kuartalan terbarunya, mengungkapkan kepemilikan ETF bitcoin senilai US$383 juta. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Eksposur tersebut diperoleh melalui iShares bitcoin Trust milik BlackRock. Hal ini memungkinkan bank mendapat paparan harga Bitcoin tanpa harus menyimpan aset kripto secara langsung.

Langkah agresif bank besar ini terjadi saat harga Bitcoin terkoreksi tajam. Setelah mencapai titik tertinggi di atas US$126.000 pada Oktober 2025, aset kripto ini sempat merosot ke kisaran US$90.000.

Tekanan ini memukul investor ritel. Crypto Fear and Greed index anjlok ke level 10 pada November 2025, menandakan kondisi extreme fear di pasar.

Investor Institusi Ambil Peluang

Berbeda dengan investor ritel, pelaku pasar dari kalangan institusi justru memanfaatkan koreksi sebagai momentum akumulasi.

Perusahaan milik Michael Saylor, MicroStrategy, tercatat membeli 1.229 keping Bitcoin senilai US$108,8 juta dengan rata-rata harga pembelian di kisaran US$88.568 per keping pada akhir Desember 2025.

Tidak hanya korporasi, investor institusional lain juga menambah eksposur. Harvard University dilaporkan meningkatkan kepemilikan Bitcoin sepanjang penurunan pasar musim panas lalu, dengan total nilai investasi sekitar US$443 juta.

Perbedaan pendekatan ini berakar pada horizon investasi. institusi besar cenderung berpikir jangka panjang dan menghindari leverage berlebihan.

Sebaliknya,investor ritel mengandalkan dana pinjaman. Akibatnya, saat pasar bergejolak pada akhir November 2025, sekitar 396.000 akun ritel terlikuidasi dengan total kerugian mendekati US$2 miliar.

Permintaan ETF Bitcoin tetap solid.