Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) membantah isu penolakan produk lokal oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
BGN menegaskan bahwa SPPG justru memprioritaskan produk dari petani, UMKM, dan produsen lokal.
Kepala BGN,Dadan Hindayana,menjelaskan bahwa isu yang berkembang lebih terkait dengan tantangan kontinuitas pasokan.
“Tidak ada, tidak ada, tidak ada. Ini hanya masalah kontinuitas suplai,” tegas Dadan di Kemenko Pangan, Kamis (29/1).
Dadan menjelaskan, SPPG membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Hal ini agar layanan pemenuhan gizi dapat berjalan optimal.
Menurutnya, masalah utama terletak pada kemampuan penyedia lokal dalam menjaga volume dan kesinambungan distribusi.
“Jadi seluruh produk yang diproduksi lokal itu memang diutamakan masuk ke SPPG,” ujarnya.
Setiap SPPG dilengkapi ahli gizi. Mereka bertugas memastikan menu makanan berbasis potensi sumber daya lokal dan selera masyarakat.
“Supaya makanan itu berbasis potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat lokal,” kata Dadan.
Proses memasak di SPPG juga mengedepankan praktik kuliner lokal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan penerimaan masyarakat dan mendorong pemanfaatan bahan pangan setempat.
“Kemudian masaknya juga masak yang utamanya adalah kearifan lokal,” pungkasnya.







